Karyawan Tahu Terancam Kehilangan Pekerjaan

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kenaikan harga kedelai menjadi ancaman bagi karyawan pembuat tempe dan tahu kelihangan pekerjaan. Perajin makanan mengandalkan bahan baku kedelai tidak memiliki keuntungan untuk menggaji karyawan.

Perajin tempe maupun tahu mampu bertahan di tengah kenaikan harga kedelai mencapai sekitar Rp 9.200 perkilogram (kg) disebabkan tidak memperhitungkan biaya operasional tenaga kerja. Perajin memproses pembuatannya, biasanya dalam jumlah kecil disesuaikan dengan kemampuan perajin.

Perajin beranggapan biaya tenaga kerja yang harus dikeluarkan sebagai keuntungan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. ”Jika menggunakan karyawan, tidak dapat melangsungkan usaha pembuatan tahu,” ujar Siti Hasanah, salah satu perajin tahu di Bujidan, Kalurahan Tawangsari, Kapanewon Pengasih.

Menurutnya, perajin tidak mampu menaikkan harga tahu, disesuaikan dengan harga bahan baku kedelai. Di pasaran terjadi persaingan harga tisak sehat. Jika menaikan harga, konsumen akan berpindah ke pedagang lain yang harga tahu lebih murah.

Ketua Kelompok Perajin Tahu ‘Sido Luhur’ Bujidan, Hibun mengatakan dalam keadaan normal harga kedelai ada di kisaran Rp 6.800 sampai Rp 7.000 per kg. Tiga bulan terakhir terus mengalami kenaikan hingga harga terakhir mencapai Rp 9.200 per kg.

Menurutnya, sebagian besar anggotanya mampu bertahan menghadapi kenaikan harga kedelai. Memproduksi tahu dalam jumlah kecil disesuaikan dengan kemampuan tenaga perajin. (Ras)

BERITA REKOMENDASI