Kecil Kemungkinan Petambak Udang Direlokasi

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna menyarankan para petambak udang di selatan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) untuk beralih profesi karena kecil kemungkinan mereka bisa direlokasi ke tempat lain, setelah NYIAberoperasi April mendatang.

“Mereka bisa gabung ke kelompok usaha wisata atau nelayan. Kalau mau tetap jadi petambak dan minta relokasi ke tempat lain, sangat sulit, karena tidak ada lokasi pengganti,” ucap Sudarna.

Kendati ada kawasan budidaya air payau sesuai RTRW di Pasir Mendit, Kadilangu dan Trisik tapi luasannya tidak mencukupi. Sementara jika di kawasan pesisir Trisik ke barat atau wilayah pertambangan pasir besir saat ini masih terganjal regulasi RTRW.

“Kalau ada penambahan luasan atau menambah kawasan budidaya air payau saya kira bisa aja, tapi mengurusnya membutuhkan waktu lama, karena berkaitan RTRW yang diampu Pemda DIY. Mungkin kalau DPRD Kulonprogo bisa mengusulkan hal itu ke Pemda DIY saya malah senang,” ujarnya.

Ditegaskan, dari sisi hukum, posisi petambak udang di selatan NYIA lemah. Lantaran lokasi tersebut bukan kawasan peruntukan budidaya air payau. Selain itu mereka juga berada di sempadan pantai yang notabene harus steril dari segala bentuk bangunan.

Dengan kata lain para petambak telah melanggar aturan. “Ini juga ada kepentingan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP),” tegasnya.

Sementara Bupati dr Hasto Wardoyo menegaskan, pihaknya segera memulai penataan Pantai Glagah dengan menggusur seluruh bangunan meliputi hunian warga, hotel, warung dan tambak udang. Penggusuran ini rencananya dilangsungkan setelah NYIA diresmikan April mendatang.

“Penataan harus dimulai dengan penggusuran dan petambak tidak dapat relokasi, karena tambak memang tidak boleh berdiri di situ, karena memang bukan tempat peruntukan budidaya,” tegasnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI