Komisi A DPRD DIY Sosialisasi Perda Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa

Editor: Agus Sigit

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Dibanding negara lain, tingkat literasi Indonesia tergolong rendah. Jika dibiarkan kondisi tersebut bisa mengakibatkan kepunahan berbagai bahasa. Beruntung Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki dana keistimewaan (danais) sehingga kekhawatiran akan kepunahan bahasa tersebut bisa diantisipasi.

“Tantangan terbesar dari belajar sastra dan aksara Jawa adalah kurang bervariasinya penyampaian pengajar mengakibatkan kurang menariknya belajar sastra dan aksara Jawa,” kata Anggota Komisi A DPRD DIY, Novida Kartika Hadhi ST saat Sosialisasi Perda Nomor 2/2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa di Balai Kalurahan Pengasih Kapanewon Pengasih, kemarin.

Dijelaskan, sosialisasi bertujuan mendorong masyarakat untuk penggunaan bahasa, sastra dan aksara Jawa dalam berkomunikasi baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun budaya. “Sehingga ke depan seluruh elemen masyarakat aktif dalam penggunaan bahasa, sastra dan aksara Jawa,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Novida mengungkapkan, zaman sekarang masih bisa menggunakan Bahasa Jawa dan identitas lainnya, tapi karena tidak ada batasnya, maka masyarakat zaman saat ini kurang bisa memfilter dalam artian kurang memilah budaya yang masuk dan berakibat kurangnya menghargai budaya sendiri.

“Kita memang masih bisa menggunakan bahasa Jawa tapi kita jarang bahkan tidak pernah menggunakan aksara Jawa. Bahasa Jawa sudah diakui UNESCO tapi aksara Jawa belum diterima karena masyarakat Jawa yang memiliki aksara tersebut hanya sedikit yang menggunakannya. Aksara Jawa sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang, dimulai dari aksara brahma (India) dan memiliki banyak perubahan serta perkembangan,” ungkapnya.

Aksara Jawa tambahnya mengajarkan kesantunan, ditandai dengan huruf huruf aksara seperti penulisan dari kiri ke kanan yang melambangkan dari keburukan menjadi kebaikan. Selain itu aksara Jawa tidak menggunakan spasi, hal tersebut mengajarkan bahwa hal yang didapatkan tidak boleh terpotong dan harus secara utuh. “Belajar aksara Jawa banyak keuntungannya, selain melestarikan juga mengajarkan mengenai kehidupan,” tutur Novida. (Rul)-

 

BERITA REKOMENDASI