Lima Produk UMKM Bakal Tempati Stan di NYIA

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kulonprogo diminta benar-benar menyeleksi produk lokal karya para pengusaha kecil setempat. Lima produk terbaik hasil seleksi tersebut akan ditempatkan di New Yogyakarta International Airport (NYIA).

”Seleksi dan pemilihannya kami serahkan ke Dinas Koperasi dan UMKM. Yang penting mereka yang terpilih benarbenar layak. Kami sudah siapkan tempat dan bergabung dengan mitra lain,” kata General Manager Bandara Adisutjipto PT Angkasa Pura (AP) I, Agus Pandu Purnama.

Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang pemberdayaan koperasi terdampak pembangunan NYIA. Agus Pandu mengingatkan, agar dalam proses seleksi, Dinas Koperasi dan UMKM benar-benar jeli sehingga diperoleh UMKM berkualitas. Termasuk produk yang disajikan harus berstandar dan layak pakai.

”Jika produk kuliner maka harus layak konsumsi. Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertugas sebagai pelayan harus memenuhi syarat yang ditentukan PT AP I. Salah satunya menguasai Bahasa Inggris,” ujarnya.

Ditambahkan, kelima produk yang terpilih nanti akan menempati satu dari total lima stan komersial seluas 50 meter persegi di dalam terminal bandara yang digunakan untuk pengoperasian perdana pada April mendatang. Produk lokal tersebut, ungkap Agus Pandu Purnama, akan bersanding dengan produk lain milik mitra PT AP I di NYIA.

Selain Kulonprogo, stan produk lokal juga dibuka untuk ditempati UMKM dari kabupaten lain di DIY. Ditegaskan, produk UMKM yang ditempatkan di NYIA akan dikenakan harga sewa stan dengan tarif yang lebih rendah dibanding produk lain milik mitra PT AP I.

”Tentang tarif masih dalam tahap penggodokan. Yang pasti UMKM akan dikenakan tarif seminimal mungkin, agar tidak menjadi beban,” ujar Agus.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kulonprogo, Sri Harmintarti menjelaskan empat dari lima produk unggulan yang berpotensi masuk di NYIA meliputi gula semut, kopi, coklat dan teh. Produk tersebut khas Kulonprogo dan telah dibina langsung oleh pemkab.

”Sisanya akan kami carikan, tapi tidak main tunjuk begitu saja, meski itu produk unggulan kalau tidak memenuhi standar ya nggak bisa masuk,” tegasnya menambahkan lokal khususnya kuliner yang akan di tempatkan di NYIA harus memiliki standar, meliputi kepemilikan PIRT dari UMKM yang mengampu, sertifikat halal dan BPOM.

Kemasan produk juga menjadi salah satu indikator kelolosan dalam seleksi tersebut. Bagi UMKM yang terpilih, Sri meminta agar tidak jumawa. Sebab penempatan produk di NYIA itu hanya berlangsung temporer selama enam bulan pertama, yang tiap tiga bulan mendapat evaluasi.

”Jika tidak bagus atau ada produk lain yang lebih bagus bukan tidak mungkin akan diganti. Dengan kondisi ini maka UMKM tidak bisa leha-leha dan harus selalu kompetitif,” ucapnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI