Mendesak, Sabuk Hijau di Selatan NYIA

Editor: Agus Sigit

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Sukartono minta PT Angkasa Pura (AP) I segera merealiasikan sabuk hijau sebagai pelindung alami Bandara Internasional Yogyakarta Baru (New Yogyakarta International Airport/NYIA) dari ancaman bencana tsunami. 

Apalagi katanya, Kulonprogo merupakan lokasi rawan bencana gempa dan tsunami. Sebab, di kabupaten ini terdapat lempeng Megatrus yang bisa berpotensi terjadi gempa dan tsunami.

"Saya berkunjung ke lokasi bandara baru di Kulonprogo ini untuk memastikan kesiapan bandara ini menghadapi kemungkinan bencana alam. Kita tentu tidak ingin keselamatan penumpang dan semua aktivitas bandara terancam bencana yang bisa terjadi tiba-tiba. Bandara ini diproyeksikan sehari disinggahi 30.000 penumpang atau dalam setahun bisa mencapai 14 juta orang. Kita tidak ingin mereka jadi korban, sehingga kesiapan dari aspek keselamatan harus diprioritaskan," kata Bambang saat meninjau lokasi NYIA, Selasa (2/4) petang.

Bambang yang datang sendirian diterima General Manager (GM) Bandara Internasional Adisutjipto sekaligus Juru Bicara Proyek Pembangunan NYIA Agus Pandu Purnama dan Pimpinan Proyek NYIA Taochid Purnama Hadi.

Dari hasil pengamatannya di lapangan, Bambang menyatakan, pihak pelaksana proyek sudah melakukan antisipasi dengan baik. Dari sisi bangunan, semuanya sudah diperhitungkan dengan matang termasuk peralatan vital juga diletakkan di lokasi yang aman. Seperti genset dan penumpang ketika tiba langsung ke lantai dua dengan ketinggian mencapai 15 meter. Artinya sudah aman dari ancaman tsunami.

Bambang mengungkapkan, berdasarkan perhitungan dari para ahli, di wilayah Selatan Kulonprogo ancaman gempa bumi paling besar 8,5 Skala Richter dan tsunami paling tinggi 14 meter. Dengan mitigasi di lantai dua tersebut sudah memperhatikan keselamatan. Tapi sekarang yang belum dilakukan adalah penanaman sabuk hijau berupa pohon cemara udang di sisi luar Selatan bandara yang berbatasan langsung dengan pantai.

"Runway

bandara ini sangat dekat, hanya 400 meter dari bibir pantai. Karenanya saya mendorong agar penanaman cemara udang segera dilakukan. Terutama sebelum bandara ini beroperasi," tegasnya.

Bambang mengatakan, faktor keamanan dan keselamatan memang harus diprioritaskan terlebih dahulu dibanding mengejar target operasional bandara. Karena itu diharapkan sebelum beroperasi, sisi keamanan dan keselamatan harus diselesaikan terlebih dahulu.

Menanggapi hal tersebut Agus Pandu Purnama menjelaskan, dalam membangun dan melaksanakan penerbangan, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan. Layanan, keamanan dan keselamatan menjadi prioritas yang tidak bisa ditinggalkan. "Dari sisi layanan, keamanan dan keselamatan di dalam bandara sudah kita perhatikan. Memang tinggal penanaman pohon cemara udang di sisi luar Selatan bandara yang belum dilaksanakan," ungkap Pandu. 

Hal itu lebih disebabkan hingga saat ini di Selatan lokasi NYIA masih banyak bangunan penginapan, warung dan tambak udang. Para pelaku usaha itu masih menolak rencana penataan di kawasan tersebut. (Rul)

BERITA REKOMENDASI