Nelayan Kulonprogo Sulit Capai Target Produksi Ikan 2.423 Ton

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Para nelayan tradisional di sepanjang pantai selatan Kulonprogo merasakan kesulitan mencapai target produksi ikan tangkap sebesar 2.423 ton. Hal ini karena sepanjang tahun 2018 nelayan tidak menentu menangkap ikan di laut.

Nelayan melaut pada saat cuaca baik dan gelombang laut normal, menggunakan Perahu Motor Tempel (PMT) dengan alat tangkap konvensional. Menangkap ikan belum tentu satu bulan sekali dan hanya dari pagi dan siang hari.

"Sepanjang pelabuhan belum bisa digunakan, nelayan kesulitan untuk mencapai target produksi ikan tangkap. Di sepanjang pantai laut selatan Kulonprogo masih nelayan tradisional," ujar Sudarno, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo.

Menurutnya, produksi ikan tangkap di sepanjang pantai selatan Kulonprogo pada 2018 ditargetkan bisa mencapai 2.423 ton. Hingga akhir Desember 2018 baru bisa tercapai 75,24 persen atau sebesar 1.823 ton. Meskipun target tidak tercapai, produksi mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya di 2017 yang pada saat itu mencapai 1.747 ton.

"Nelayan berangkat dan kembali melaut dari pantai. Setiap gelombang laut besar sudah tidak bisa ditembus perahu nelayan," tuturnya.

Produksi ikan laut masih memungkinkan ditingkatkan. Banyak potensi ikan di laut selatan Kulonprogo yang tidak bisa ditangkap karena keterbatasan sarana prasarana yang memadai. "Kalau pelabuhan Tanjung Adikarta bisa digunakan nelayan, produksi bisa melebihi dari sekarang," jelasnya.

Rubingan, salah satu nelayan di Pantai Congot menjelaskan di sepanjang tahun 2018 banyak nelayan tidak bisa melaut karena cuaca tidak menentu dan gelombang tinggi. Ikan hasil tangkapan nelayan menjadi sumber pendapatan utama keluarga.

Sebagian besar nelayan kembali melaut pascagelombang tinggi sekitar November 2018. Yaitu pada saat musim ikan bawal yang hanya berlangsung beberapa hari. Nelayan tidak melaut kembali karena gelombang tinggi.

"Harapan para nelayan Pelabuhan Tanjung Adikarta bisa segera digunakan agar produksi ikan tangkap bisa maksimal. Jika masih seperti sekarang, produksi ikan tergantung cuaca dan gelombang laut," jelas Rubingan. (Ras)

BERITA REKOMENDASI