Pemkab Lanjutkan Perataan Kolam Tambak Udang di Selatan YIA

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Perataan kolam tambak udang di selatan Yogyakarta International Airport (YIA) untuk kepentigan pembangunan green belt atau sabuk hijau bandara sebagai mitigasi bencana kembali ricuh. Selain memblokade jalan, para petambak udang juga diduga melakukan penebangan puluhan pohon cemara udang yang selama ini berfungsi sebagai  pelindung pantai agar tidak abrasi. 

Baca Juga: Pendemo Naiki 'Bachoe', Penertiban Tambak Udang Selatan YIA Ricuh

Agar proses penertiban tambak udang tidak berjalan mulus, para petambak melintangkan mobil pick up, tiang listrik atau togor, batang dan dahan pohon cemara udang di sejumlah titik. Selain itu warga juga membakar tumpukan ban di tiga titik tengah jalan dekat Joglo Labuhan Pakualaman. 

Warga menggelar aksi sebagai bentuk protes terhadap upaya pengosongan lahan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo. Karena relokasi usaha tambak udang di Desa Banaran Kecamatan Galur yang dijanjikan pemkab setempat dinilai belum ada kejelasan, sehingga para petambak enggan mengosongkan kolam tambaknya. 

Aksi bakar ban menimbulkan kepulan asap tebal membumbung tinggi ke udara mengarah ke area landasan pacu YIA. Namun kondisi tersebut tidak mengganggu penerbangan. Selama aksi nampak aktivitas penerbangan berjalan normal, beberapa pesawat tinggal landas dan mendarat mulus. 

Pelaksana Tugas Sementara General Manajer (PTS GM) YIA, Agus Pandu Purnama membenarkan, kepulan asap yang ditimbulkan dari pembakaran ban oleh penambak udang tidak sampai mengganggu penerbangan. Terkait masalah tersebut pihaknya menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada pihak berwenang. "Untuk antisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan, kami menempatkan sejumlah petugas keamanan di luar pagar bandara," kata Pandu. 

Diketahuinya aksi bakar ban saat petugas gabungan dari Polres Kulonprogo, TNI dan Satuan Polisi Pamong Praja serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sedang apel persiapan pengamanan tiba-tiba melihat kepulan asap hitam membumbung. Saat itu juga petugas bergerak cepat memadamkan api dan membersihkan atau menyingkirkan batang dan dahan pohon serta tiang listrik yang melintang dijalan. Selain itu petugas Polres Kulonprogo juga sempat mengamankan sejumlah warga yang diduga melakukan pembakaran ban. 

Kabag Ops Polres setempat Kompol Sudarmawan menegaskan, dalam aksi tersebut pihaknya sempat mengamankan sepuluh orang yang berada di lokasi saat kejadian dan satu mobil pick up. Polisi menduga mobil itu digunakan peserta aksi mengangkut ban untuk dibakar. "Setelah semuanya didata, mereka kami lepaskan. Sementara masih kami dalami termasuk pohon-pohon yang sengaja ditebang tentu akan diselidiki apakah ada unsur pelanggaran hukum oleh warga. Kalau ada, jelas akan kami tindak supaya jera," jelasnya. 

Baca Juga: AirNav Indonesia Siap Layani 400 Penerbangan di BIY

Pada penertiban tambak udang tahap ketiga, Kamis (31/10/2019) dan Jumat (1/11/2019) pemkab berencana meratakan 133 kolam yang kosong menggunakan tiga unit alat berat, bachoe. Jika pada Kamis (31/10/2019) petugas berhasil meratakan 12 kolam dan dua kolam pembuangan maka pada Jumat (1/11/2019) siang petugas baru meratakan tiga kolam tambak. "Sesuai rencana, sebanyak 133 kolam tambak yang akan diratakan dalam waktu dua hari. Kalau sampai hari ini ternyata masih banyak yang belum bisa dibongkar, nanti kami koordinasikan lagi dengan Satpol PP," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Ir Sudarna. 

Sudarna menegaskan, aksi protes para petambak memang cukup mengganggu proses perataan kolam tambak udang. Tapi pihaknya sudah menutup ruang diskusi lantaran perataan kolam tambak udang sudah menjadi keputusan final pemkab. Apalagi sebelumnya sudah ada pertemuan dan mediasi dengan para petambak. Termasuk memberi toleransi waktu kepada para petambak dan ditunggu hingga masa panen udang usai.(Rul)

BERITA REKOMENDASI