Pendampingan Madrasah Bebas ‘Bullying’

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Meningkatnya jumlah kasus ‘buyying’ atau perundungan menggugah keprihatian bagi banyak pihak. Siswa di madrasah perlu diperkenalkan sebab terjadinya bullying dan bagaimana cara mereka menghindari agar tidak terjerumus ke perilaku bullying, melalui acara pendampingan Madrasah bebas bullying kerja sama antara Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Madrasah Tsanawiyah Darul Ulum Muhammadiyah Galur Kulonprogo.

“Siswa perlu dikenalkan dan dipahamkan apa yang dimaksud perilaku bullying, agar mereka tidak terjerumus kedalamnya,” kata Harni RiswantiSPd, Kepala Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Galur Kulonprogo saat membuka acara tersebut, Rabu (18/11/2020).

Adapun acara ini dikemas santai bertembat di ruang aula diikuti oleh siswa dan siswi yang masuk secara bergilir (karena pandemi Covid-19) berjumlah sekitar 130 orang. Sedangkan Sutipyo Ru’iya MSi, dosen PAI-FAI UAD selaku pemateri mengatakan, kasus bullying atau perundungan adalah perilaku yang tidak menyenangkan baik verbal, fisik atau sosial di dunia nyata maupun maya.

“Perundungan mengakibatkan siswa-siswi menjadi tidak nyaman dan sakit hati. Perundungan bisa dilakukan individu maupun kelompok,” ujarnya, Jumat (20/11/2020).

Menurut Sutipyo, siswa dan siswi selama ini memahami bullying rata-rata hanya bullying fisik, ternyata statemen ini terbukti saat menyapa peserta dengan pertanyaan apa yang dimaksud bullying diawal penyampaian materi. Serempak siswa dan siswi yang hadir menjawab “Itu Pak, jotos-jotosan,” kata mereka sambil senyum-senyum.

Selanjutnya dipaparkan macam-macam tradisional bullying dan contoh-contohnya mulai dari bullying fisik, verbaldan psikologi. Dalam penhamatan Sutipyo, bullying tradisional terjadi karena pelaku dan korban berhadapan langsung.

Tidak kalah pentingnya dan sangat mungkin terjadi adalah bullying modern yang dikenal cyberbullying, yaitu bullying melalui media elektronik/internet. Terutama sejak pandemi penggunaan semua siswa menggunakan handphone, sangat riskan terjebak kedalam perilaku bullying.

“Cyberbullying tidak kalah berbahaya, karena dampak psikologi yang sangat besar yaitu berujung pada depresi tingkat tinggi seperti yang dialami beberapa publik figur sampai melakukan bunuh diri karena putus asa,” tandasnya.

Untuk menghindari perilaku bullying ada dua kiat penting yang diberikan, yaitu pertama hati-hati ketika bercanda, karena berawal dari candaan yang berlebih-lebihan berakibat terjerumus kedalam perilaku bullying. Kiat kedua menyitir hadis nabi yang artinya: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri” (HR: Bukhari dan Muslim).

Sutipyo berharap dengan menerapkan hadis ini akan muncul rasa empati, sehingga terhindar dari perilaku bullying. Acara ini diikuti oleh siswa-siswi dengan antusias, dan diakhiri dengan ikrar bersama, ‘Stop Bullying di Madrasah Kita’. (Jay)

BERITA REKOMENDASI