Penggantian Tanah Kas Desa Belum Jelas

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO (KRjogja.com) – Pelaksanaan pembangunan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) akan menggusur sejumlah tanah kas desa di wilayah Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo. Kendati pembayaran ganti kerugian tahap ketiga akan dilaksanakan Senin (28/11/2016), tapi mekanisme penggantian sepertinya belum ada kejelasan. Termasuk tanah bengkok dan pelungguh kepala desa (kades dan perangkat desa (perades).

“Belum ada kejelasan dan sampai sekarang belum koordinasi,” kata Camat Temon Joko Prasetya, Rabu (23/11/2016).

Menurutnya, tanah kas desa yang hilang karena tergusur proyek Negara harus dicarikan penggantinya. Hanya saja, mencari tanah pengganti yang cukup luas bukan hal mudah. Warga tergusur yang ingin membeli saja juga kerepotan. Apalagi harga tanah ikut melambung dan banyak spekulan bermain. “Harga pastinya kita tidak tahu, tetapi dari beberapa lahan yang ditawarkan harganya sudah mahal sekali,” ujarnya.

Kades Sindutan Kalisa Paraharyana mengungkapkan, hampir semua tanah kas desanya hilang kena proyek bandara. Tanah tersebut merupakan tanah bengkok dan pelungguh yang selama ini menjadi sumber pendapatan para kades dan perades. “Lahan kami sekitar 20 hektare habis semuanya,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo Ir RM Astungkoro menjelaskan, masalah tanah bengkok dan pelungguh sudah dalam pembahasan internal pemkab. Prinsipnya tanah kas desa harus ada dan dicarikan tanah pengganti. Tapi karena butuh waktu nanti akan diupayakan secara tersendiri. “Masih dikoordinasikan dengan gubernur,” jelas Astungkoro.

Informasinya bagi perangkat desa yang tanah bengkok dan pelungguhnya tergusur, tetap akan diberikan kompensasi. Uang kompensasi dari PT Angkasa Pura (AP) I akan ditampung dan disimpan untuk sementara waktu sampai mendapat tanah pengganti. Sedangkan perades dan mantan yang memiliki hak akan diberikan kompensasi. Mengenai dananya dari mana masih dibahas pihak terkait. (Rul)

BERITA REKOMENDASI