Pernikahan Usia Dini Timbulkan Kemiskinan Baru

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Upaya pencegahan pernikahan usia dini harus dimulai dari lingkungan keluarga. Setiap anggota keluarga hendaknya meminimalisir munculnya persoalan.

Mengantisipasi pernikahan usia dini yang berpotensi menimbulkan dampak negatif memang diperlukan pendampingan para orang tua secara intensif terhadap anak-anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sehingga tercipta sumber daya manusia berkualitas untuk meneruskan pembangunan.

Demikian kesimpulan Sosialisasi Penguatan Kesehatan Mental Spiritual dan Pencegahan Pernikahan Usia Dini yang menampilkan pembicara Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAy Paku Alam dan Ketua TP PKK Kulonprogo Sri Wahyu Widhati dan Pokja 1 PKK setempat Sulasmi Anas di Joglo Rumah Dinas (Rumdin) Bupati setempat, Wates, Selasa (14/09/2021). Hadir Wakil Ketua I TP PKK Kulonprogo Erna Nofita Ningrum dengan peserta sosialisasi Pengurus TP PKK se-Kapanewon Kabupaten Kulonprogo.

GKBRAy Paku Alam mengatakan, sosialisasi pencegahan pernikahan usia dini penting. Karena selama pandemi Covid-19 pernikahan dini meningkat. Di antara faktor pendorongnya beban ekonomi.

Orang tua terdorong cepat-cepat menikahkan anaknya dengan harapan beban ekonomi keluarga berkurang, karena anak perempuan yang sudah menikah tanggung jawab suami. Ironisnya orang tua tak memikirkan usia anaknya belum cukup umur untuk menikah.

Pihaknya mengingatkan, pernikahan usia dini berpotensi menimbulkan kemiskinan baru, karena mereka belum mampu secara mandiri untuk menjadi keluarga yang sejahtera. Untuk menciptakan keluarga sejahtera pihaknya setuju adanya pelatihan keterampilan bagi pasangan pernikahan usia dini. “Sehingga mereka punya sumber pendapatan yang bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.

Ketua TP PKK Kulonprogo Sri Wahyu Widhati mengatakan, fungsi pendampingan memang menjadi faktor utama dalam perkembangan anak-anak di masa pandemi Covid-19. “Khusus anak-anak usia sekolah yang selama pandemi belajarnya di rumah mutlak ada pendampingan orang tua. Apalagi pembelajaran melalui online anak-anak sangat berpotensi membuka situs-situs dewasa,” jelasnya.

Kader PKK dalam pendampingan keluarga menerapkan delapan fungsi keluarga. Yakni fungsi agama, kasih sayang, perlindungan, sosial budaya, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan.

Sulasmi Anas mengtakan orang tua punya peran dan tanggungjawab perawatan, pengasuhan, perlindungan,pendidikan. Pola asuh memiliki ciri dan dampak masing-masing. “Pola asuh demokratis, orang tua tegas tapi menghargai anak dampaknya anak percaya diri, mandiri, bisa mengendalikan diri dan bertanggungjawab,” katanya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI