Petani Kulonprogo Terapkan Sistem ’Turiman’

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Petani penggarap lahan surjan di Kulonprogo telah menerapkan teknologi pertanian Tumpang Sari Tanaman (Turiman). Selain bercocok tanam padi sesuai peraturan pola tata tanam tahunan, dapat menanam aneka macam komoditas palawija maupun hortikultura.

Dalam usaha mengoptimalkan lahan surjan, bagian bawah yang oleh kalangan petani disebut got ditanami padi karena mendapat pengairan cukup. Lahan bagian atas yang disebut pundhungan atau dhuwuran, petani jarang menanam kedelai.

Untuk menanam komoditas palawija, sebagian besar menanam jagung atau sayuran seperti cabai, bawang putih, terong, sawi, timun, semangka dan melon. Untuk memaksimalkan pendapatan, petani memilih komoditas tanaman umur pendek dan panenan memiliki harga jual tinggi.

“Jarang menanam kedelai di pundhungan karena umur tanaman panjang. Masalahnya setelah panen masih banyak yang harus dikerjakan. Perlakuan berbeda dengan jenis tanaman sayuran,” ujar Wardoyo, petani surjan, warga Sebokarang, Kelurahan/ Kecamatan Wates.

Wagiran, salah seorang petani surjan tetangga Wardoyo mengungkapkan menggarap lahan surjan seluas 4.000 meter persegi dengan lahan got 2.500 meter persegi dan lahan pundhungan sekitar 1.500 meter persegi. Pada lahan got yang ditanami padi memasuki panen dan pundhungan ditanami jagung umur sekitar satu bulan. Sehabis panen ditanami palawija lagi.

Untuk penyiraman mengambil air dari got atau sumur pantek. Sebagian besar petani penggarap lahan surjan tidak mengetahui telah menerapkan bercocok tanam ‘Turiman’. Bercocok tanam di lahan got mengikuti ketentuan pola tata tanam tahunan, musim tanam (MT) pertama dan MT kedua menanam padi dan MT ketiga menanam palawija. (Ras)

BERITA REKOMENDASI