Petani Padi di Sidomulyo Gagal Panen

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Puluhan hektar lahan padi di Kalurahan Sidomulyo Kapanewon Pengasih gagal panen karena dilanda kekeringan. Lahan tersebut merupakan milik para petani yang tergabung dalam tiga kelompok tani yaitu Sidodadi, Sari Tani dan kelompok tani Akur.

Dari total 198 hektar lahan yang seharusnya mendapat aliran irigasi dari Bendung Plelen, sebanyak 25 ha dipastikan gagal panen, dan sebagian besar sisanya terancam gagal panen dikarenakan aliran air dari saluran irigasi (Daerah Irigasi/DI Plelen) sudah tidak bisa sampai ke lahan padi milik para petani tersebut akibat minimnya debit air. Petani minta bantuan dan perhatian serius pemerintah dengan memberikan solusi permanen, bukan hanya pertolongan darurat secara parsial-parsial saat ada kejadian, mengingat kekeringan lahan ini sudah berulang kali terjadi, hampir-hampir di setiap tahunnya.

Anggota DPRD Kulonprogo dari F-PKS Jeni Widiyatmoko meminta kepada pemkab agar menyelesaikan tiga persoalan utama yang terjadi di Daerah Irigasi Plelen ini yaitu dengan, menjamin ketersediaan pasokan air yang mencukupi sampai dengan masa tanam ketiga, melakukan rehabilitasi saluran, dan menyelesaikan pembangunan saluran air yang lahannya sudah dibebaskan tapi sampai dengan saat ini belum bisa terbangun.

“Ini merupakan hal yang harus menjadi prioritas penanganan kekeringan di Daerah Irigasi (DI) Plelen ini agar para petani bisa melaksanakan pola tanam sesuai anjuran dari MT(masa tanam) 1 sampai dengan MT 3, mengingat cakupan luasan lahan yang mencapai 198 ha,” kata Jeni, Kamis (03/06/2021).

Saat ini para petani baru bisa bercocok tanam dengan lega hanya di MT 1 saat awal musim penghujan. Untuk di MT 2 sebagian lahan sudah kekurangan air bahkan kekeringan yang mengakibatkan gagal panen seperti yang terjadi sekarang ini. Sedang untuk MT 3 yang direkomendasikan palawija, nyaris sebagian besar lahan menganggur dikarenakan sudah tidak ada pasokan air dari DI Plelen.

Jeni yang juga merupakan anggota komisi III ini juga meminta agar para petani di seluruh wilayah Kulonprogo mendapatkan perhatian super prioritas dari pemerintah daerah. Mengingat di Kulonprogo, sektor pertanian menjadi tumpuan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah terutama dimasa pandemi ini.

Dikatakan Ketua Kelompok Tani Sido Dadi, Bingat Sudiyanto (62), saat ini sebenarnya sedang memasuki masa tanam kedua untuk jenis padi. Tapi sejak bulan puasa lalu sudah tidak ada hujan. Akibatnya pasokan air dari Drainase Plelen tidak mengalir. “Yang kering dan terancam gagal panen mencapai 25 hektare,” ungkapnya.

Akibat faktor alam ini, petani merugi hingga puluhan juta. Mereka sudah mengolah lahan dan melakukan pemupukan dua kali. Padahal saat musim tanam pertama setiap hektarnya mampu menghasilkan panenan hingga mencapai 8 ton. “Beberapa lahan yang tidak bisa diselamatkan sudah dipotong untuk pakan sapi,” ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Ir Muh Aris Nugroho MMA yang langsung turun ke lapangan begitu mendengar ada lahan yang kering dan teracam gagal panen di Sidomulyo. Hal ini diakibatkan karena debit saluran irigasi sangat minim. “Kami akan upayakan penanganan darurat dengan meminjamkan pompa agar tanaman bisa diselamatkan,” ujar Aris sambil menambahkan untuk penanganan jangka panjang perlu koordinasi, sebab lahan yang ada berada di ujung saluran irigasi. (Wid)

BERITA REKOMENDASI