Stunting Perlu Peran Semua Pihak

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Tiga persoalan gizi yang dihadapi Indonesia saat ini, yakni gizi kurang, gizi lebih dan stunting. Stunting ini menjadi masalah gizi yang dampaknya sangat besar dan intervensinya memerlukan peran semua pihak. Namun masyarakat terkadang masih menganggap sepele masalah stunting ini.

“Pemberian makanan tambahan banyak ditujukan bagi balita gizi buruk, bukan pada balita stunting. Padahal stunting memiliki efek jangka panjang, sebab di awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional ketika dewasa,” kata Wakil Bupati Kulonprogo Fajar Gegana yang mewakili bupati dalam sosialisasi tentang stunting dan penyerahan bantuan untuk ibu hamil dan bayi bawah dua tahun (batuta) stunting di Aula Puskesmas Samigaluh II Pagerharjo Samigaluh, Rabu (13/10/2021).

Kegiatan tersebut kerjasama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulonprogo, Rumah Sehat Baznas (RSB) Yogyakarta dan Puskesmas Samigaluh II. Bantuan untuk ibu hamil dari RSB dan Batuta Stunting dari Baznas Kulonprogo. Pada kesempatan itu juga dilakukan pengukuran tinggi/panjang/berat badan, Kampanye Makbyur (makan buah dan sayur), serta penyampaian materi sosialisasi stunting dan capaian program gizi Samigaluh II oleh Kepala Puskesmas Samigaluh II dr Tari Astuti.

Dikatakan Fajar Gegana, di Kulonprogo gambaran stunting pada balita dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2018 ada 14,31 persen dan tahun 2019 sejumlah 12,57 persen (3.157 balita), sedangkan angka stunting pada tahun 2020 ada 11,80 persen (2.535 balita). “Pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap pemantauan pertumbuhan balita. Kegiatan pemantauan pertumbuhan di Posyandu sempat tidak dibuka pada awal pandemi Covid-19. Dengan tidak terpantaunya balita, maka tidak bisa diketahui status gizi balita tersebut,” ujar Fajar Gegana.

Pemkab, lanjut Fajar Gegana, berterima kasih pada Baznas Kulonprogo, Rumah Sehat Baznas Yogyakarta atas bantuannya bagi anak stunting dan ibu hamil. Juga kepada Puskesmas Samigaluh II dalam upaya menangani masalah stunting. “Kami sangat mengharapkan dukungan dari seluruh pihak, karena persoalan stunting ini adalah persoalan kita bersama,” tandasnya.

Ketua Baznas Kulonprogo Drs H Abdul Madjid menyampaikan, pemberian bantuan dari Baznas untuk batuta stunting dan ibu hamil oleh RSB merupakan salah satu bentuk kepedulian dalam program ‘Kulonprogo Sehat’. “Kami ikut membantu mendukung program pemerintah tentang penurunan stunting tersebut,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Samigaluh II dr Tari Astuti menerangkan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. “Penyebab stunting antara lain praktik pengasuhan yang kurang baik, masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal Care dan pembelajaran dininyang berkualitas), masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi, serta kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi,” urainya.

Menurut Tari Astuti, tantangan dalam penanganan stunting adalah terkait pola asuh, pola konsumsi, kesehatan diri dan kesehatan lingkungan, sosial budaya, ekonomi keluarga. “Sedangkan lima pilar penurunan stunting meliputi komitmen dan visi pimpinan daerah, kampanye dengan fokus pada pemahaman perubahan perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas, mendorong kebijakan nutritional food security, konvergensi, koordinasi dan konsolidasi program nasional, daerah dan masyarakat, serta melakukan pemantauan dan evaluasi,” pungkasnya. (Wid)

BERITA REKOMENDASI