Tahfidz Siapkan Kader Masa Depan

Editor: Ary B Prass

 

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Pada dua dekade terakhir ini marak di berbagai daerah bermunculan lembaga pondok pesantren di masyarakat menyelenggarakan pesantren tahfidz atau sekolah yang mengajarkan tahfidz atau hafalan Al-quran bagi para santri dan siswanya. Harapannya kader masa depan  memiliki kemampuan hafalan dan pengetahuan keagaman yang cukup sebagai kader ummat, dan menyiapkan  pemimpin ummat masa depan yang memahami Al-quran sebagai pedoman hidup beragama.

Demikian sambutan yang disampaikan oleh Dr Sukardi MM, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat penyerahan buku kitab ke Pondok Pesantren Tafidl Putra Darul Ulum Muhammadiyah Darul Ulum, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulonpogo beberapa hari yang lalu. Bantuan tersebut diterima Drs Kantun Sukamto mewakili pengelola pondok pesantren. Hadir pula dalam Pengabdian Kepada Masyarakat Tina Sulistiyani MM (Dosen Prodi Manajemen FEB-UAD).

Menurut Sukardi, upaya menghafal Al-quran  (tahfidz)  yang dijalani para santri tahfidz, belum cukup dengan tafidznya, mereka sangat memerlukan dukungan untuk dilengkapi dengan pengembangan wawasan dan pengembangan pengetahuan keagamaan dalam memahami ayat ayat Al-quran yang dihafalnya. Termasuk diperlukan dukungan pemaaman  hadits hadits shokhih, dibutuhkan Al-quran dengan tafsirnya seperti tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al-Maroghi dan sebagainya tentu dengan harapan agar para santri mampu memperluas pemahaman ajaran agama yang diperlukan dalam  kehidupan di dunia ini. Hadits –hadits shokhih yang telah dibukukan seperti Hadits Imam Bukhori, Hadits Imam Muslim, Hadits Imam Nasai, Hadits Imam Tabroni dan sebagainya. “Pesantren yang menanamkan wawasan keagamaan yang luas, para santri akan bisa memahami makna kehidupan kebersamaan  masyarakat,” ujarnya, Senin (02/08/2021).

Selain itu, menjadikan para santri dan lulusan pesantren berpemikiran luas, bijak yang diwarnai nilai kemajuan tidak menjadikan manusia picik dan fanatik. Banyak membaca hadits- hadits shokhih, banyak memahami tafsir Al-quran secara luas dan benar mampu memperluas wawasan, menjadikan orang bijak, orang menjadikan aliim dan perilakunya mampu mengambil sari dari apa yang dituntunkan Allah  dan dicontohkan Nabi Muhamad SAW.

Sifat alim, tawadzuk, luas wasasan, longgar pemikiran menjadi perilaku yang diharapkan pada para santri untuk  mampu membangun ketenteraman kehidupan di masyarakat dan melakukan amar makruf dan nahi munkar secara bijak. “Luasnya wawasan keagaman mampu menggugah semangat keidupan, semangat menggali  mengolah potensi alam sebagai wujud mensyukuri karunia Allah,” tandasnya.

Ditambahkan, penyampaian kitab Tafsir AlQuran Jalalain, Hadits Bukhori, Riyadusoliin, fikih empat madzab buku satu dua dan beberapa kitab lain diarapkan bisa menjadi baan bacaan para ustadz. (Jay)

BERITA REKOMENDASI