Tambak Udang Kembali Diratakan, Sabuk Hijau BIY Dibangun

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Pemkab Kulonprogo menargetkan perataan kolam tambak udang di Selatan Bandara Internasional Yogyakarta/Yogyakarta International Airport (BIY/YIA) bisa tuntas dua hari, Kamis-Jumat (26-27/12).  Dengan target tersebut Pemkab benar-benar melaksanakan janji mereka dan tidak memberi toleransi waktu lagi bagi para petambak udang, sehingga meskipun ada tambak udang yang belum dipanen akan tetap diratakan dengan tanah.

Dalam memuluskan rencana pembangunan greenbelt atau sabuk hijau bandara, Pemkab Kulonprogo sejak Oktober hingga November lalu terus melakukan perataan kolam tambak udang yang ada di Selatan bandara baru tersebut. Saat itu tambak yang diratakan adalah tambak yang sudah tidak produktif atau sudah tidak ada isinya lagi, tapi untuk dua hari terakhir berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, merupakan batas akhir waktu toleransi sehingga semuanya akan diratakan.

"Kami menerjunkan tiga alat berat dan dibackup kekuatan penuh aparat keamanan, sehingga target terhadap tambak yang belum ditertibkan sebanyak 95 unit terdiri 58 tambak yang sudah kosong dan sisanya masih aktif akan kami tertibkan atau ratakan maksimal Jumat (27/12)," tegas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Ir Sudarna, Kamis (26/12).

Dijelaskan, penertiban tersebut merupakan bentuk ketegasan Pemkab dalam upaya menjadikan kawasan Selatan BIY sebagai sabuk hijau. Setelah penertiban selesai bisa dilanjutkan penanamam pohon oleh Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Yogyakarta sebagai mitigasi bencana di kawasan bandara," jelasnya.

Dalam upaya penertiban agar tidak timbul gesekan antara para petambak dengan aparat keamanan, pihaknya telah berkoordinasi dengan para petambak, sehingga dari ujung Barat sampai
Timur nampak kolam tidak beroperasi. "Saat ini tidak ada kolam yang aktif," tutur Sudarna menambahkan pascapenertiban tambak, pihaknya telah menyediakan lokasi tambak baru di Desa Banaran, Kecamatan Galur yang berdasarkan review RTRW Kulonprogo merupakan kawasan budidaya air payau.

Guna mensukseskan pemindahan para petambak, ungkapnya, Pemerintah Desa setempat sudah diberikan sosialisasi kemungkinan adanya eksodus petambak eks Selatan BIY ke tempat tersebut. "Mengenai tanggapan petambak kami serahkan sepenuhnya kepada para petambak, yang pasti kami telah menjalin komunikasi dan sosialisasi di Desa Banaran," katanya.

Pemilik tambak, Joko Tri Wisantoso, warga Desa Glagah mengaku baru tahu penggusuran dilakukan hari ini. Itupun dapat kabar dari temannya sesama penambak. Dirinya tahu jika penertiban dilakukan akhir Desember. "Saya baru tadi, memang sempat mendenger akan ada perataan kolam tapi saya pikir bukan sekarang," terangnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI