Tanpa Lelah, Masyarakat Nanggulan Terus Menggempur Belanda

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Pertempuran sengit antara pejuang gerilya Indonesia dan pasukan Belanda pecah di tengah pedesaan. Pasukan TNI yang sedang bergerilya dibantu rakyat mencegat tentara kolonial Belanda di tengah jembatan.

Kontak tembak yang tidak terelakkan merangsek hingga pemukiman penduduk. Meski begitu, pasukan gerilya Indonesia berhasil menghadang bala bantuan Belanda yang semestinya hendak bergerak
ke ibukota Yogyakarta akibat adanya Serangan Umum 1 Maret 1949.

Teatrikal dalam balutan kegiatan Manca Krida Gerilya Semesta yang digelar Dinas Kebudayaan DIY bersama Komunitas Djokjakarta 1945 dengan suport dana keistimewaan tersebut diadakan di Temanggal Wijimulyo Nanggulan Kulonprogo, Sabtu (29/2). Kegiatan ini merupakan rangkaian Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang sedang dalam proses pengusulan menjadi Hari Besar Nasional. “Sengaja kami hadirkan teatrikal dengan pola jaman dulu seperti yang dilakukan pejuang di medan gerilya agar dapat menghayati bagaimana perjuangan pendahulu bangsa di masa lalu,” kata koordinator Djokjakarta 1945 Eko Isdianto.

Ditambahkannya, melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat menggali kembali cerita perjuangan rakyat Nanggulan di era kemerdekaan. Terlebih, di Nanggulan tersebut secara tidak langsung turut andil dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret karena TNI dibantu rakyat setempat mencoba menghalau pasukan Belanda yang bergerak masuk ke Yogyakarta.

“Sebenarnya Serangan Umum 1 Maret berlangsung general, tidak
hanya di Kota Yogyakarta. Tapi juga termasuk di Nanggulan, Magelang, Purworejo maupun Klaten karena berusaha menghadang pasukan Belanda yang ingin membantu pusat pemerintahan di Yogyakarta karena digempur pasukan TNI dalam sandi Janur Kuning,” jelasnya.

Selain itu Eko juga ingin mengajak masyarakat setempat dan secara luas agar mengetahui bahwa di sekitar Nanggulan hingga Samigaluh merupakan basis awal petinggi militer TNI. Bahkan sejumlah tokoh TNI yang saat ini menyandang gelar Pahlawan Nasional pernah merasakan bermarkas di tempat tersebut. “Dengan adanya perjalanan sejarah ini bukan tidak mungkin jika ke depan akan ditetapkan sebagai Desa Wisata Perjuangan,” ungkapnya. (Feb)

BERITA REKOMENDASI