Telan Biaya 455 Ribu Gulden, Begini Sejarah Panjang Pembangunan Jembatan Bantar

Editor: Agus Sigit

WATES, KRJOGJA.com – Jembatan Bantar melintasi Kali Progo, menghubungkan wilayah Kulon Progo dengan wilayah Bantul memiliki nilai sejarah panjang yang menarik. Pasalnya, jembatan tersebut menjadi penghubung kendaraan darat pertama di mana sebelum adanya jembatan ini, wilayah Kulonprogo dengan wilayah Wates dan Bantul hanya dihubungkan dengan jembatan kereta api.

Indroyono Susilo, tokoh melakukan penelitian sejarah bersama Komunitas Jogja 45 menceritakan pada tahun 1916, Ir.Verhoog & Ir.Jurgensen West dari Burgerlijek Openbare Werken (sekarang Dinas Pekerjaan Umum) merancang sebuah jembatan gantung dengan teknologi paling modern saat itu. Bentuk desain jembatan adalah jembatan gantung karena Sungai Progo yang lebar dan sering banjir, sehingga tiang pancang jembatan cukup 2 pilar saja agar tidak bisa diterjang banjir.

“Pembangunan dimulai 1917, namun terhenti karena harga baja meroket pasca Perang Dunia I. Pembangunan dilanjutkan pada tahun 1928 dan selesai 1929. Baja-Baja untuk jembatan dibuat di Pabrik “Werkspoor”, Utrech, Belanda diangkut dengan kapal laut dan tiba di Pelabuhan Cilacap pada April 1928, untuk kemudian diangkut dengan kereta hingga tiba di Stasiun Sentolo dan Sedayu,” ungkapnya di sela pelestarian Monumen Perjuangan Jembatan Bantar di Towil Fiets.

Indroyono yang juga putra Jendral (Purn) Soesilo Soedarman menceritakan detail sejarah lanjutan bahwa pada 17 Juni 1929 Jembatan Bantar diresmikan oleh Gubernur Yogyakarta, J.E. Jasper dan diberi nama Gouverneur Jasperbrug. Biaya total pembangunan jembatan disebutkan sebesar 455.000 Gulden, yang mana dibagi rata antara Pemerintah Kolonial Belanda dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Jembatan Bantar, yang diresmikan pada 17 Juni 1929 lalu, merupakan jembatan gantung sepanjang 180 meter dan pembangunannya menerapkan teknologi paling modern pada jamannya. Nilai sejarahnya sangat luar biasa, karena pada perang kemerdekaan menjadi lokasi pertempuran hebat antara Gerilyawan TNI dengan tentara Belanda di antaranya 23 dan 24 Februari 1949, Letkol Soeharto memimpin unsur SWK 103A/WK-III dan Kompi Sudarsono Bismo menyerang kedudukan Belanda di jembatan Bantar, Kulonprogo. Kompi Sudarsono Bismo datang dari arah Purworejo dengan kekuatan 200 prajurit dan memiliki senjata senapan mesin berat. Serangan besar terhadap Bantar dilakukan pada tanggal 24 Februari 1949. Saat itu, Sungai Progo sedang banjir. Pasukan Letkol Soeharto menyusup pada malam hari, sementara itu Kompi Sudarsono Bismo menyerang Bantar dari arah timur sungai,” tandas dia.

Jembatan Bantar juga menjadi saksi bisu bagaimana Belanda berupaya keras mempertahankan jembatan sebagai penghubung Yogyakarta dengan wilayah barat Jawa. Begitu pula saat 1 Maret 1949, Letkol Soeharto mengarahkan Seksi Staf Pengawal untuk menekan dari arah barat dan Pasukan Hisbullah pimpinan Noer Moenir menekan dari arah Timur.

“Tugas tercapai, Pasukan Belanda di Bantar tidak dapat bergerak untuk membantu Pasukan Belanda yang terkepung di Yogyakarta. Pada 8 Maret 1949, Letkol Soeharto memimpin 2 kompi gerilyawanTNI, meninggalkan markasnya di Segoroyoso menuju Bantar. Serangan terhadap kedudukan Belanda di Bantar dilakukan tanggal 11 Maret Di Bantar/Klangon, pos-pos Belanda diserang dari dua arah. Dalam pertempuran Bantar ini, Kompi Kapten Widodo menderita kerugian 4 prajurit gugur dan 23 luka-luka. Keempat prajurit yang gugur dimakamkan oleh penduduk di sekitar Gamping. Belanda kehilangan 10 orang prajuritnya tewas, 2 buah truk hancur dan sejumlah senjata dirampas TNI,” lanjutnya lagi.

Sejarah panjang yang sangat menarik tentang Jembatan Bantar ini kini menjadi salah satu atraksi cerita yang akan disampaikan Muntowil kepada wisatawan yang mengikuti paket wisata sepedanya. Bupati Kulonprogo, Sutejo memberikan dukungan dengan hadir langsung ke Towil Fiets dan berharap agar sisi sejarah berharga bisa diangkat kembali sehingga diketahui generasi muda dan wisatawan.

“Ini hal positif bagi Kabupaten Kulonprogo. Harapannya, sejarah panjang yang sangat penting bisa disampaikan. Kami mengapresiasi langkah teman-teman ini,” ungkap Sutejo. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI