Tiga Bulan Sebelum Nikah, Calon Pengantin Wajib Cek Kesehatan

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI dr H Hasto Wardoyo SpOG (K) menegaskan, secara nasional badan yang dipimpinnya diwajibkan kampanye tentang generasi yang sehat guna mencegah kasus stunting. Sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting Nasional dirinya bertekad mewujudkan perintah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) stunting di seluruh Indonesia paling tinggi 14 persen.

“Kendati jumlah stunting di Kabupaten Kulonprogo saat ini lebih rendah dibanding kabupaten/ kota lain di DIY yakni 12 persen. Tapi kita harus tetap berupaya maksimal agar ke depan tidak ada lagi bayi lahir stunting di kabupaten ini. Ingat stunting betul-betul tidak menguntungkan bagi keluarga. Tiga kerugian penderita stunting bertubuh pendek, tidak cerdas dan sakit-sakitan,” katanya saat Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana di Kopi Sawah Kalurahan Sukoreno Kapanewon Sentolo, Kulonprogo, Jumat (11/03/2022).

Hadir Wakil Bupati sekaligus Ayah Generasi Remaja (Genre) Kabupaten Kulonprogo Fajar Gegana dan anggota DPRD setempat Aris Syarifudin serta Lurah Sukoreno Olan Suparlan. Dalam kesempatan tersebyut Kepala BKKBN RI Dr HC dr Hasto Wardoyo menyerahkan bantuan televisi kepada Fajar Gegana untuk Sekretariat Genre Kulonprogo.

Penyebab stunting juga ada tiga ungkapnya, gizi makanan kurang baik terutama protein hewani, sakit-sakitan karena tinggal di lingkungan tidak sehat dan asuhannya kurang baik atau kurang kasih sayang dari orang tua dan lingkungannya. Terlalu muda nikah tidak baik, terlalu tua melahirkan juga tidak baik dan jangan terlalu sering melahirkan sehingga orang tua kerepotan mengurusi anaknya. Usia ideal menikah 21-25 tahun. Kawin di usia muda berpotensi terkena kangker mulut rahim. “Saya mengingatkan jangan kawin pada usia muda karena bahaya dan potensi anak yang dilahir pasangan muda menderita stunting,” tuturnya.

Hasto sangat prihatin terhadap masih tingginya kasus stunting di daerah-daerah lain. Contohnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini stuntingnya masih 38 persen. Yang lebih ironis lagi di Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS) NTT, stuntingnya mencapai 47 persen.

Selain sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana, upaya lain yang dilakukan guna menurunkan kasus stunting di seluruh Indonesia adalah menjalin kerjasama dengan Kementerian Agama (Kemenag) mewajibkan para calon penganting (cantin) tiga bulan sebelum menikah memeriksakan kesehatannya termasuk cek kadar hemoglobin Hb. “Agar melahirkan bayi yang sehat dan cerdas maka bagi ibu yang mau hamil harus dalam kondisi sehat,” ujarnya.

Wabup Fajar Gegana mengatakan, upaya mewujudkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas saat ini dan di masa mendatang sangat urgen untuk menjawab tantangan zaman seiring dengan munculnya berbagai dampak dari era globalisasi dan modernisasi kehidupan. Kita dituntut mampu memainkan peran masing-masing yang strategis guna membentuk pemuda-pemuda berkualitas.

Dibutuhkan strategi tepat dengan program-program yang memiliki daya ungkit tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas SDM tersebut. Tinggi rendahnya kualitas SDM diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indikator utamanya tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

“Dari sisi kesehatan, ibu berusia di bawah 21 tahun akan menghadapi resiko kehamilan dan melahirkan yang lebih besar dibanding ibu yang berusia lebih tua. Kondisi ini menjadi kendala untuk dapat melahirkan generasi berkualitas, karena bisa jadi anaknya lahir dalam kondisi stunting. (Rul)

BERITA REKOMENDASI