UII Bangun Kampus Merdeka Dekat Bandara

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta membangun Kampus Merdeka di kawasan Glagah Temon Kulonprogo. Pembangunan Kampus Merdeka ini hasil kerjasama Magister Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII Yogyakarta dengan Pemerintah Kalurahan Glagah serta PT Dua Putra Futura. Peletakan batu pertama pembangunan Kampus Merdeka ditandai ground breaking pembangunan Kantor Kalurahan Glagah Kecamatan Temon Kulonprogo, Kamis (23/07/2020).

Pembangunan gedung bernilai sekitar Rp 3 miliar tersebut ditargetkan selesai dalam kurun waktu 15 bulan. Rencananya pertengahan tahun 2021 Kampus Merdeka maupun Kantor Kalurahan Glagah telah bisa difungsikan.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FTSP UII, Dr Ir Kasam MT menyampaikan program Kampus Merdeka merupakan implementasi kebijakan strategis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Di Kampus Merdeka mahasiswa memperoleh kesempatan belajar langsung di luar kampus.

“Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar sebenarnya bukan belajar semaunya sendiri. Dengan berbagai kondisi yang sekarang kita alami, idealnya kampus bisa mengelola dan merekayasa pembelajaran sehingga bisa saling sinergi dengan berbagai pihak,” ujarnya mewakili Dekan FTSP UII, Miftahul Fauziah ST MT Ph D.

Selain kampus baru, pembangunan Kantor Kelurahan Glagah juga diperlukan agar lebih dapat melakukan pelayanan kepada masyarakat dengan maksimal. Selain membangun kantor, UII juga mendukung kegiatan administrasi kelurahan. “Kami berharap gedung kalurahan ini dikawal menjadi gedung yang representatif dan bisa menjadi acuan kalurahan digital,” tambahnya.

Sementar aitu Ketua Program Studi Arsitektur Program Magister Arsitektur UII Ir Suparwoko MURP Ph D menambahkan, melalui model Kampus Merdeka maka terbuka kerja sama lebih luas lagi antara pemerintah, swasta serta masyarakat. Bagi mahasiswa, Kampus Merdeka memberikan banyak kesempatan belajar di luar kampus dari semula minimal 30 persen bisa menjadi 50 persen, juga menjadi sarana riset. (*)

BERITA REKOMENDASI