Wamen LHK Ajak Pengelola Wisata Jeli Baca Peluang di Tengah Pandemi

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Masih dalam rangkaian kunjungan kerja ke Yogyakarta, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Alue Dohong menyempatkan mengunjungi Obyek Wisata Kalibiru di Kulonprogo, Minggu (20/06/2021) kemarin. Kalibiru merupakan salah satu obyek wisata yang menjad ikon di DIY yang cukup populer beberapa tahun terakhir ini. Namun demikian, pandemi covid 19 yang masih berlangsung hingga saat ini nyatanya cukup berdampak terhadap operasionalisasi kawasan ini.

“Saat ini memang kawasan taman wisata alam (TWA) dan obyek wisata alam mengalami tantangan berkurangnya kunjungan wisatawan yang sangat drastis di tengah pandemi Covid-19 ini. Tetapi saya harap pengelola wisata alam jangan berputus asa,” kata Alue Dohong.

Ia mengatakan dampak pandemi memang ada yang terpuruk, namun ada juga yang memiliki peluang bagus dalam kondisi seperti ini. Contohnya produk-produk herbal seperti jahe merah dan tanaman obat-obatan yang justru mengalami pertumbuhan bagus. “Itu artinya saat ini masyarakat telah mengalami perubahan pola konsumsi,” tambahnjya.

Wamen menginstruksikan kepada unit pelaksana teknis Kementerian LHK di DIY untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat. Karena peluang yang terbuka saat ini adalah upaya mengatasi penyebaran covid-19 dengan mengkonsums produk-produk herbal termasuk juga kayu putih.

“Harapannya jika nanti kelompok pengelola wisata ini beralih ke pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) diluar jasa wisata alam, saya minta UPT KLHK yang ada di Yogyakarta bisa membantu mencarikan link pemasarannya,” urainya.

Wamen Alue Dohong sangat mengapresiasi keberadaan Kalibiru ini, merunut dari sejarahnya yang dulunya adalah kawasan gundul karena penebangan dan kini telah menjelma menjadi kawasan yang bagus dengan banyak pepohonan. Hutan memiliki manfaat yang beragam terhadap sendi kehidupan masyarakat.

“Di sektor pendidikan ada istilah scientific tourism dimana peneliti datang melakukan penelitian dan wajib membayar. Di kawasan konservasi, implementasinya dengan membayar simaksi sesuai tarif yang telah diatur dalam peraturan prundangan,” kata Alue Dohong.

Kedepan diharapkan Kalibiru dapat mendukung upaya Forest Healing yang saat ini tengah digaungkan. Hutan sebagai media untuk refreshing dan kesehatan. Dengan mengunjungi hutan, wisatawan menjadi gembira terbebas dari stress sehingga berdampak pada peningkatan sistem imun tubuhnya. (*)

BERITA REKOMENDASI