YIA Aman dari Terjangan Tsunami

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Bandara Internasional Yogyakarta/ Yogyakarta International Airport (BIY/YIA) dibangun melalui kajian ilmiah termasuk potensi gempa bumi dan tsunami. Sehingga tidak mungkin pemerintah membangun sarana transportasi udara tersebut secara asal- asalan tanpa memperhitungkan keamanannya dari sisi bencana alam tsunami.

“Tidak mungkin BIY dihentikan operasionalnya, karena ada ancaman tsunami. Pembangunan bandara ini telah melalui kajian ilmiah. Adapun potensi pergeseran lempeng yang memicu gempa berkekuatan 8,8 Skala Richter (SR) disertai terjangan tsunami hingga ketinggian 20 meter patut diwaspadai masyarakat terutama yang tinggal di pinggir pantai. Masyarakat perlu mengenali daerahnya sendiri utamanya sebagai upaya mitigasi, termasuk memetakan lokasi aman sebagai tempat evakuasi,” kata Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY Teguh Prasetyo.

Pernyataan tersebut disampaikannya menanggapi pertanyaan KR terkait adanya laporan dari elemen masyarakat kepada Presiden RI yang meminta agar BIY dihentikan operasionalnya menyusul pernyataan dari BMKG terkait potensi pergeseran lempeng pemicu gempa berkekuatan 8,8 SR dan terjangan tsunami setinggi 20 meter di laut selatan Jawa.

Lebih lanjut Teguh Prasetyo mengatakan, kalau melihat sejarah di DIY dan Jawa Tengah, tsunami merupakan peristiwa berulang. Tsunami pernah terjadi pada 600 tahun lalu, pada 1840, 1859 kemudian 1931 dan terakhir 2006 lalu. “Dengan demikian maka masyarakat perlu mewaspadainya. Mereka harus mengetahui daerahnya sendiri,” jelasnya.

Menurut Teguh, pemetaan terhadap daerah sekitar, diperlukan masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana. Mereka bisa memanfaatkan bangunan di sekitar sebagai tempat berlindung ketika terjadi tsunami.

Pihaknya menilai upaya mitigasi bencana di wilayah selatan Kulonprogo sudah cukup baik. Daerah ini memiliki pemecah ombak di Pantai Glagah serta ada rencana membangun greenbelt atau sabuk hijau penahan terjangan tsunami di selatan YIA. Gedung terminal BIY bahkan bisa menjadi tempat evakuasi bagi masyarakat sekitar.

Plt GM BIY Agus Pandu Purnama saat dikonfirmasi terkait adanya laporan ke pemerintah pusat agar operasional BIY dihentikan, mengaku memang mendengar informasi tersebut. Ditegaskan, BIY merupakan shelter untuk mitigasi bencana gempa dan tsunami. Selain konstruksi bangunan yang tahan gempa, lokasi bandara internasional baru tersebut juga lebih tinggi 7,4 meter dari desa di sekitarnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI