Malioboro “Mati”, PEMALNI Bantu Sembako 450 Anggota

Editor: Ary B Prass

YOGYA, KRJOGJA.com – Sejak 3 Juli 2021 lalu, PPKM Darurat diterapkan di DIY. Aktivitas pariwisata di seluruh DIY mandeg termasuk di wilayah Malioboro yang selama ini menjadi pusat tujuan wisatawan datang ke Yogyakarta.

Paguyuban Pelukis, Pengrajin dan Pedagang Kaki Lima Ahmad Yani (PEMALNI) turut terdampak. 450 anggota tak bisa bergerak karena matinya aktivitas di Malioboro.

Slamet Santoso, Ketua Umum PEMALNI mengungkap kondisi sulit yang dialami anggota sudah terjadi sejak awal pandemi. Namun, bantuan dari pemerintah untuk kebutuhan pokok belum juga hadir sampai setahun lebih.

“Ini PPKM Darurat kami sudah tidak beraktivitas ekonomi sejak 3 Juli. Hari ini kami iuran dari paguyuban dan memberikan sembako untuk 450 anggota. Kami berikan beras dan mie instan, untuk saling membantu dalam situasi ini,” ungkapnya di sela pembagian sembako di Tegalrejo.

Pembagian sembako dilakukan secara drive thru di mana para anggota tak perlu turun dari motor. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan kerumunan yang justru akan menimbulkan potensi penularan.

“Kami bagikan dalam dua skema, yang bisa ambil langsung pakai motor, tanpa perlu turun sementara satu lagi kami datangi ke rumah-rumah bagi yang tidak bisa pergi. Kami berikan beras 5 kilogram dan 4 mie instan, yang semuanya berasal dari anggota, iuran dan donatur dari kami juga,” lanjut dia.

Pembagian bantuan dari anggota untuk anggota menurut Slamet sudah ketiga kalinya dilaksanakan selama pandemi. Hal tersebut karena para anggota mengalami kesulitan setelah kegiatan pariwisata berhenti.

“Pandemi ini memang luar biasa menguras kami dalam segala hal, apalagi kami sektornya di pariwisata. Kami sampai sekarang memilih taat pada himbauan pemerintah agar pandemi segera usai. Mudah-mudahan tidak ada perpanjangan-perpanjangan PPKM Darurat lagi,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI