DIY

Merdeka Belajar Sejalan dengan Ajaran Tamansiswa

YOGYA, KRJOGJA.com – Konsep ‘Merdeka Belajar’ yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sejalan dengan ajaran Tamansiswa dari Ki Hadjar Dewantara. Dalam ajaran Tamansiswa, sistem pengajaran ditujukan untuk mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirnya dan merdeka tenaganya.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa sekaligus Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Ki Drs H Pardimin PhD dalam acara Jagongan Merdeka bertema ‘Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka’ di Ruang Senat, Kantor Pusat UST, Jalan Batikan Tuntungan Yogyakarta, Sabtu (7/3). Acara diselenggarakan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa bersama UST menghadirkan tiga pembicara, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Drs HM Idham Samawi, Plt Dirjen Dikti Kemendikbud RI Prof Dr Nizam, Kepala LLDikti Wilayah V DIY Prof Dr Didi Achjari dipandu moderator Sekjen Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Dr Saur Pandjaitan XIII MM.

Menurut Pardimin, bisa dikatakan Merdeka Belajar ini merupakan konsep lama dari Tamansiswa yang diaktualisasikan kembali oleh Mendikbud. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa siap berkoordinasi dan berkontribusi ‘urun rembug’ terkait kebijakan-kebijakan agar konsep Merdeka Belajar dari Mendikbud menjadi lebih baik lagi.

Idham Samawi mengatakan, mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu dari cita-cita Indonesia Merdeka yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Ini merupakan buah pemikiran dan usulan dari Ki Hadjar Dewantara sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). “Jadi pendidikan merupakan perintah dari konstitusi UUD 1945,” katanya.

Menurut Idham, ajaran Tamansiswa memang banyak terkait dengan pendidikan, namun jangan sampai lupa bahwa hal yang paling spesifik dari ajaran Tamansiswa adalah tentang kebangsaan. “Pendidikan di Indonesia harus mampu mencetak calon-calon pemimpin bangsa yang punya jiwa nasionalisme yang tinggi,” katanya.

Prof Nizam mengatakan, pesatnya kemajuan teknologi menyebabkan perkembangan dunia menjadi sangat cepat. Hal ini perlu diikuti juga dengan perkembangan paradigma pendidikan, yang harus bisa memerdekakan individu (peserta didik) melalui
pemanfaatan teknologi. “Konsep Kampus Merdeka perlu terus didorong di era disrupsi saat ini. Untuk membekali mahasiswa keterampilan yang dibutuhkan, salah satunya bisa ditempuh melalui program magang,” katanya.

BACA JUGA :

Sukamta : Daripada Rp 72 Miliar untuk Influencer, Lebih Baik Anggaran Kesehatan Ditingkatkan

Jembatan dan Pusat Kuliner Perkukut Mulai Dibangun, Beginilah Harapan Warga Sungapan

Prof Didi Achjari mengatakan, meski perguruan tinggi terutama yang negeri diberi kebebasan dalam membuka sebuah program studi, namun hal itu harus tetap dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi perguruan tinggi swasta (PTS) dan masyarakat. “Meskipun permintaan dunia kerja sangat tinggi terhadap satu profesi, tapi untuk membuka prodi baru banyak aspek yang perlu diperhatikan. Perlu ada regulator yang mengaturnya,” katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI