Pelaku ‘Klithih’ Bakal Direhabilitasi di Pundong

YOGYA, KRJOGJA.com – DIY akan membuat penampungan anak-anak yang terlibat ‘klithih’ atau kejahatan jalanan. Pusat penampungan tersebut, ditempatkan di Pundong, Kabupaten Bantul.

“Dalam dua minggu sudah akan jadi,” kata Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono (HB) X kepada KRJOGJA.com di Royal Ambarukmo, Selasa (12/4/2022) kemarin.

“Mengapa di Pundong Bantul, sebab ada bangunan besar yang selama ini tidak digunakan, maka ketimbang membangun, ya sudah pakai saja gedung tersebut,” imbuhnya.

Sultan mengemukakan, semua rencana tersebut sudah dibicaralan dengan jajaran terkait, Selasa kemarin. Konsep penanganan tersebut seperti pernah dilakukan pada Pra Yuwana, namun tentu ada yang berbeda karena kemajuan teknologi.

Mengenai remaja klithih pelaku ‘gir maut’, Gubernur minta aparat untuk menghukum. “Mereka bukan lagi anak-anak, tetapi sudah ada yang bersuai 18 tahun. Hukuman ini akan membuat mereka menjadi jera,” katanya.

Lebih lanjut, Gubernur dalam keterangan pers kepada wartawan di Kepatihan mengemukakan, saat ini tengah menggodog program untuk melakukan pengawasan dan pendampingan bagi anak yang berpotensi maupun telah melakukan tindak kejahatan.

“Ditata kembali program untuk training yang ada di Pundong itu. Coba kita adakan, karena tanahnya luas, bagaimana anak yang sedang ada masalah bisa tinggal di sana,” kata Gubernur.

Seperti yang diketahui, di daerah Pundong terdapat Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) yang dikelola Dinas Sosial DIY. Lokasi Balai yang berada di Pundong itu rencananya akan dijadikan sebagai tempat untuk menampung remaja yang terlibat kejahatan jalanan. Anak yang ditempatkan di penampungan itu jika orangtua tidak mampu menangani, maka anak berpotensi dikeluarkan dari sekolahnya dan tidak mendapatkan pendidikan lanjutan.

Sultan mengungkapkan, apabila anak bersedia tinggal di tempat tersebut. Mereka akan tetap bisa sekolah dan diberikan pelatihan. Mengingat selama ini ketika ada anak nakal terlibat beberapa kasus kemudian diberhentikan dari sekolah. Sultan berharap anak tersebut tidak langsung dikeluarkan begitu saja, akan tetapi diarahkan agar bersedia tinggal dan mengikuti pendidikan di Pundong.

“Apabila anak itu bersedia, sebaiknya diberi waktu dan kesempatan, bisa berubah atau tidak. Karena kalau mereka putus sekolah bebannya makin tambah besar. Bukan menyelesaikan masalah, pemberhentian dari sekolah itu malah menambah masalah,” ungkap Sultan.

BERITA REKOMENDASI