Penutupan TPA Lama Piyungan Terapkan Metode Terasering

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRjogja.com – Pemda DIY tengah berupaya melakukan penataan sampah di lokasi sebagai persiapan penutupan Zona A dan Zona B Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lama. Penutupan zona A dan zona B TPST Piyungan menggunakan metode lahan urug saniter (sanitary landfill) atau penimbunan membentuk terasering yang ditargetkan selesai pada 2022 mendatang. Setelah TPA Lama ditutup, maka telah disediakan lahan seluas 1,9 Hektare (Ha) sebagai TPA dalam waktu antara atau bridging time sebelum kawasan pengembangan TPST Piyungan dengan teknologi baru Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) selesai.

Pelaksana Harian Unit Manajemen Tim Pelaksana Percepatan Pembangunan Program Prioritas (TP5) DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan penataan sampah di TPST Piyungan difokuskan pada tiga titik yaitu kawasan zona A dan zona B TPA Lama, TPA selama waktu antara serta kawasan pengembangan KPBU TPST Piyungan. Pemda DIY sudah membebaskan lahan seluas 1,9 Ha bagi TPA dalam waktu antara sebelum teknologi baru selesai.

“Kami tengah fokus melakukan penataan sampah dengan dibuat terasering di TPA lama, targetnya TPA Lama TPST Piyungan akan ditutup total pada 2022 mendatang. Penutupan zona A dan zona B TPA Lama ini dilakukan sesuai dengan Peraturan Pemerintah,” ujarnya kepada KR di Yogyakarta, Sabtu (28/8).

Rani menyampaikan sebelum melakukan penutupan TPA Lama, pihaknya terlebih dahulu melakukan sosialisasi penutupan dengan terasering kepada masyarakat setempat. Tidak hanya sosialisasi, pihaknya pun memberikan contoh negara atau provinsi yang telah menerapkan penimbunan terasering untuk menutup TPA.

“Kita harus berikan contoh hasil penutupan TPA seperti TPA Suwung Bali yang direvitalisasi dengan skema terasering kepada masyarakat sekitar TPST Piyungan. TPA Suwung Bali merupakan satu-satunya TPA Regional di Indonesia yang direvitalisasi menggunakan sistem terasering menjadi bukit. Jika sudah pelan-pelan menjadi hijau setelah ditanami pepohonan bisa dijadikan area publik atau tempat wisata, butuh proses apalagi menghilangkan bau tidak sedap tentunya,” paparnya.

BERITA REKOMENDASI