PPKM Darurat Diperpanjang Perhotelan dan Restoran di DIY Kritis, Butuh Solusi Bertahan Hidup

Editor: Ary B Prass

YOGYA, KRJOGJA.com – Bisnis perhotelan baik bintang maupun non bintang dan restoran di DIY sangat berdampak signifikan dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat DIY yang diperpanjang sampai 31 Juli 2021. Melihat kondisi sektor perhotelan dan restoran di DIY yang terpuruk ini, maka diperlukan keberpihakan pemerintah berupa solusi baik bagi pelaku usaha maupun tenaga kerja untuk bertahan hidup maupun usahanya.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengakui dari semua kebijakan pengetatan dan pembatasan yang telah diterapkan sejak awal pandemi Covid-19, kebijakan PPKM Darurat ini lebih berat dampaknya sehingga sangat memukul sektor perhotelan maupun restoran. Sehingga tidak hanya oksigen medis bagi pasien Covid-19 yang kritis,  pelaku bisnis perhotelan dan restoran di DIY pun kekurangan oksigen untuk bertahan hidup.

“Kita memang mendukung program PPKM Darurat tersebut, tapi kalau kebijakan ini diperpanjang harus ada solusi bagi bisnis perhotelan maupun restoran di DIY demi keberlangsungan hidup. Dampaknya sudah sangat berat sekali, kami kesulitan bernafas dengan capaian okupansi hanya dikisaran 0 sampai dengan 6 persen sehingga harus melakukan efisiensi yang lebih termasuk merumahkan tenaga kerja,” terangnya kepada KR di Yogyakarta, Minggu (18/7/2021).

Deddy mengatakan solusi yang dibutuhkan perhotelan dan restoran antara lain stimulus atau dana hibah digulirkan kembali, bebas abonemen atau subsidi kelistrikan serta keringanan pembayaran BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan. Sehingga perpanjangan PPKM Darurat ini semakin memperburuk kondisi sektor perhotelan dan restoran di DIY.

“Kita ini sangat butuh oksigen, karena sudah sekarat semua, padahal oksigennya sama dengan oksigen kesehatan yang sangat langka saat ini. Kita antri oksigen (kredit) di bank banyak ditolaknya karena dianggap sudah tidak punya harapan hidup. Ini menjadikan kita sangat sulit bertahan hidup, jangankan bangkit bernafas untuk hidup saja kita kesulitan sekarang, termasuk mempertahankan karyawan dan properti,” ungkapnya.

BERITA REKOMENDASI