Pakar Nuklir UGM Kontaminasi Radioaktif di Serpong Tak Berbahaya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Masyarakat dikejutkan dengan adanya kontaminasi Cs-137 di area Perumahan BATAN Indah di Serpong, Tangerang Selatan, Banten beberapa hari silam. Radiasi tersebut bahkan sempat membuat otoritas terkait yakni Badan Pengawas Teknologi Nuklir (BAPETEN) mengeluarkan pernyataan tertulis dan meminta masyarakat di sekitar untuk menghindari lokasi dalam jarak tertentu.

Kondisi tersebut membuat UGM terdorong untuk memberikan tanggapan ilmiah melalui tim yang terdiri dari pakar dan dosen dari Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM. Tim dipimpin langsung Ketua Prodi S1 Teknik Nuklir UGM, Dr. Ir. Andang Widi Harto.

Andang mengatakan sejak tahun 1958 Indonesia berkomitmen menggunakan untuk keperluan medis, industri, pertanian, pertambangan, hidrologi, keamanan dan pengembangan ilmu pengetahuan. “Nuklir di Indonesia digunakan untuk kesejahteraan masyarakat (sektor energi dan non energi).

Hal yang paling umum adalah untuk pembangkitan listrik dan radiasi nuklir dimanfaatkan untuk berbagai bidang, seperti medis, industri, pertanian, pertambangan, hidrologi, keamanan, dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya pada wartawan Kamis (20/2/2020).

Ia menjelaskan teknologi nuklir yang berhubungan dengan Cs-137 dan bersifat radioaktif selama ini dimanfaatkan untuk bidang kesehatan dan industri. Manfaat ini diperoleh melalui radiasi sinar gamma yang dipancarkan Radioisotop Cs-137 menjadi produk buatan yang terbentuk melalui reaksi nuklir di dalam reaktor menggunakan bahan uranium.

Sementara terkair peristiwa di Serpong, lepasnya Cs-137 ke lingkungan hanya dapat terjadi jika bahan itu terlepas dari wadah penutupnya bisa karena faktor ketidaksengajaan (bencana alam, kegagalan teknologi, dan human error), serta faktor kesengajaan (sabotase atau pencurian). Peristiwa di Serpong tersebut tergolong sebagai sesuatu yang tidak seharusnya terjadi jika meruntut pada aturan yang berlaku. “Perlu dilakukan pelacakan yang melibatkan BAPETEN sebagai pengawas, Kepolisian, serta BATAN untuk permasalahan ini,” tandas dia.

Sementara, Ir. Haryono Budi Santoso, salah seorang anggota tim pakar juga menekankan bahwa zat radioaktif yang lepas di Serpong hanya melebihi batas administratif yang diterapkan di Indonesia sebesar 1 millisievert per tahun. Sementara, batas biologis kontaminasi yang mulai menyebabkan perubahan biologis manusia dimulai dari 500 milisievert sekali terpapar.

“Jumlah tersebut bahkan lebih kecil dibanding batas adminstratif yang diterapkan bagi pekerja yang lebih kerap berinteraksi di bidang nuklir yakni sebesar 5 hingga 20 milisievert per tahun. Masyarakat tidak perlu khawatir, perbandingannya misalnya sekali rontgen, zat tersebut memancarkan 0,1 milisievert, untuk CT Scan bisa sampai 10 milisievert sekali pancar,” imbuh dia.

Paparan di Serpong secara teoritis juga dipengaruhi jarak dan waktu sehingga semakin jauh dan semakin lama waktunya maka paparannya akan semakin kecil. Masyarakat di sekitar lokasi pun diminta tidak perlu khawatir karena lokasi sudah disterilkan saat ini.

“Mahasiswa kami di UGM misalnya, melakukan praktikum dengan zat serupa dengan paparan 0,0289 milisievert per jamnya. Mereka melakukan itu selama 5 jam per praktikum dan dilakukan selama 14 kali per semesternya. Dosen yang mengajar pun saat ini masih sehat,” tandas dia. (Fxh)

BERITA TERKAIT