26 Pesilat Jerman Berguru ke Jogja, Rela Tidur di Pinggir Sungai

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – 26 pesilat berbagai usia asal Perguruan Bongot Harimau Berlin Jerman tampak serius di kawasan Ledok Sambu Pakem Sabtu (27/10/2018). Ternyata sudah tiga hari terakhir mereka berguru teknik dan hakekat silat sebenarnya pada para pendekar di Yogyakarta.

 

Arif Baskoro, pimpinan proyek dari Tungtungan Project mengatakan para pesilat dari Jerman adalah para atlet yang selama ini kerap turun di kejuaraan mewakili negara maupun perguruan. Menurut dia, selama ini para pesilat di Eropa pada khususnya hanya mengetahui silat sebagai sebuah olahraga yang mana terkadang melupakan hakekat asli seni beladiri ini.

“Karena itu mereka bersedia datang ke Yogyakarta untuk belajar lebih dalam mengenai silat khususnya gerakan-gerakan dalam kategori tanding atau fight. Mereka ingin mengenal lebih dalam silat dari daerah aslinya, Indonesia,” ungkapnya pada wartawan ketika berbincang Sabtu (27/10/2018).

Para pesilat dari Berlin ini begitu serius saat mengikuti satu per satu materi sekaligus praktek yang dikemas dalan sebuah camp silat. Materi dan praktek diberikan oleh para pendekar yang berasal dari beberapa perguruan seperti Tapak Suci, PS Asad dan Khrisnurti. Mereka bahkan rela tidur di pinggir Kali Kuning karena materi yang diberikan sangat padat sejak pagi hingga malam hari.

“Setiap hari sejak 24 Oktober lalu ada latihan tiga kali sehari pagi, sore dan malam. Mereka sangat serius mengikuti, karena memang para pesilat ini adalah atlet di negaranya yang punya misi juara di Eropa. Latihan pagi, sore dan malam dilakukan dengan sangat serius karena ada misi penting mereka ikut acara ini,” lanjut Arif.

Chandrasa Sedyaleksana, Vice President Pencak Silat Union Deutschland menambahkan para pesilat yang turut dalam Camp Silat Pencak Wisata Budaya 2 tersebut dikenalkan lebih jauh untuk beberapa aspek silat. “Ada spiritual aspek, seni budaya, bela diri dan olahraga itu sendiri. Kami ingin agar para atlet lebih memahami pencak silat secara menyeluruh, bahwa teknik dan gerakan yang benar adalah aspek penting bukan hanya tenaga,” ungkapnya.

Nantinya, diharapkan ketika semakin banyak masyarakat dunia memainkan olahraga seni beladiri pencak silat maka bisa menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan di event multinasional seperti Olimpiade. “Tujuan akhirnya memang demikian, tapi paling tidak semakin banyak orang memahami makna silat yang sebenarnya,” pungkas Arif Baskoro. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI