31 Warga Terserang Leptospirosis

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Mayoritas penderita leptospirosis para petani karena penyakit ini ditularkan melalui air kencing tikus yang terkena bakteri leptospira. Untuk itu warga diimbau untuk waspada terhadap penyakit leptospirosis.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr Joko Hastaryo MKes menjelaskan, penyakit leptospirosis ini biasanya meningkat pada saat musim hujan dan habis panen. Air kencing tikus yang terkena bakteri leptospira itu masuk melalui luka dalam tubuh manusia.

Baca juga :

PHRI DIY Diminta Fokus Promosikan Pariwisata
Perbaikan Talut Longsor Prioritas

"Kebanyakan tikus sawah yang terkena penyakit leptospirosis. Sehingga mayoritas penderita leptospirosis adalah para petani," jelasnya.

Pada tahun 2019 kemarin, jumlah penderita leptospirosis sebanyak 31 dengan meninggal dunia 1 orang. Sedangkan tahun 2018, ada 28 penderita dengan 1 orang meninggal dunia. Penderita leptospirosis ini paling banyak di daerah Minggir dan Berbah.

"Kebanyakan terjadi di daerah persawahan. Sedangkan untuk daerah padat penduduk, jarang yang terkena," ucapnya.

Adapun ciri-ciri orang terkena leptospirosis antara lain, demam tinggi, sakit kuning di bagian mata secara mendadak, air kencing kuning dan betis nyeri. Jika mengalami tandatanda tersebut, sebaiknya segera dibawa ke layanan kesehatan.

"Sebenarnya obatnya mudah yaitu diberi antibiotik. Tapi kalau penanganannya terlambat ya bisa menyebabkan kematian," terangnya.

Untuk itu masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaannya. Jika melakukan aktivitas di area yang rawan banyak tikus atau kencing tikus, supaya memakai sepatu.

"Kalau ada luka ya ditutup soalnya bakteri itu masuk melalui luka di dalam tubuh. Kemudian memakai sepatu dan kaos tangan," imbau Joko. (Sni)

BERITA REKOMENDASI