851 Orang Terlibat dalam Operasi Pencarian Korban Susur Sungai Sempor

SLEMAN, KRJOGJA.com – Sebanyak 851 orang terdiri dari Tim SAR, unsur relawan, Polri dan TNI terlibat dalam operasi kemanusiaan mencari korban Susur Sungai Sempor di Dusun Dukuh Desa Donokerto Turi Sleman. Dalam operasi yang digelar sejak Jumat (21/2/2020) hingga hari ini Minggu (23/2/2020), tim berhasil menemukan 10 siswi dalam keadaan meninggal dunia.

Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito mengatakan, konsentrasi Tim SAR gabungan ini untuk mencari korban yang sebelumnya tidak ditemukan. Sebanyak 851 orang itu terbagi dalam 8 tim yang tersebar di beberapa titik. “Kami ikut belasungkawa atas meninggalnya para korban,” ungkapnya, saat meninjau lokasi kejadian, Sabtu (22/2/2020) petang.

Menurutnya, kendala dalam proses pencarian ini karena sungai berbatuan dan terdapat embung. Meskipun demikian, Tim SAR tak pantang menyerah untuk terus mencari para korban hingga ditemukan. “Adanya bebatuan di sungai menjadi kendala tim untuk mencari korban. Tetapi kami terus berusaha semaksimal mungkin untuk mencari korban,” tegasnya.

Kapolda DIY Irjen Pol Asep Suhendar menambahkan, susur sungai ini diikuti sekitar 249 siswa Kelas VII dan VIII SMPN 1 Turi. Dari jumlah tersebut, 239 dalam keadaan selamat, 8 ditemukan meninggal dunia dan 2 belum diketemukan. Dikatakan, para siswa saat mengikuti susur sungai tidak dilengkapi dengan tali supaya tidak hanyut. Namun para siswa hanya dilengkapi dengan tongkat pramuka. “Untuk safety tidak ada. Mereka hanya dilengkapi dengan tongkat pramuka,” ucapnya.

Anggota Komisi X DPR RI My Esti Wijayanti menilai, kegiatan susur sungai SMPN 1 Turi ini tidak direncanakan dengan mendalam. Termasuk pembina tidak memperhatikan faktor cuaca dan peralatan yang harus dipersiapkan. “Ternyata pembina juga tidak menanyakan berapa anak yang bisa renang dan berapa yang tidak bisa renang. Padahal itu cukup diperlukan,” kata Esty.

Sementara itu Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Haris Sugiharta minta penanganan pencarian korban bisa menggunakan dana tak terduga agar penanganan musibah bisa lebih maksimal. “Kalau tidak menggunakan dana tak terduga, anggarannya hanya terbatas,” kata Haris sambil mendesak agar bantuan pemerintah segera diberikan kepada pihak korban. (Sni/Ayu/Aha)

BERITA REKOMENDASI