Adat Tedun, Upacara Usir Burung Gagak

PETANI di dusun Tlacap-Grojokan Desa Pandowoharjo Kecamatan Sleman, Sleman, resah. Baru saja memulai tanam padi, sejumlah Burung Gagak muncul dan hendak memakan padi mereka yang baru berusia sehari.
 
Petani marah. Beramai-ramai mereka mengusir burung-burung tersebut. Tapi tidak berhasil. Bahkan burung tersebut semakin liar dan merusak seluruh tanaman padi milik petani. Tak berselang lama, muncul Dewi Sri dan meminta seluruh burung untuk berkumpul di depannya. Tokoh yang dipercaya masyarakat sebagai simbol kesuburan ini lantas meminta burung-burung tersebut untuk pergi dan tidak lagi mengganggu petani.
 
Melihat burung-burung itu pergi, petani merasa lega. Sebagai wujud syukur, mereka lalu melaksanakan Upacara Tedun. Dipimpin salah satu pemuka agama setempat, masyarakat menempatkan jenang sungsum dan pisang di setiap sudut sawah. Jenang dan pisang tersebut sebagai bentuk tolak bala agar hamanya tidak datang lagi.
 
Zaman dahulu, petani di Pulau Jawa selalu melaksanakan Upacara Tedun tepatnya sehari setelah proses tanam padi. Upacara ini ditandai dengan pembagian jenang sungsum dengan tujuan agar tanaman padi mereka dapat menghasilkan panen yang melipah.
 
"Kami sengaja menghidupkan kembali Upacara Tedun karena sudah jarang ditemukan di masyarakat. Selain untuk nguri-nguri budaya Jawa juga sebagai bentuk doa petani agar hasil panen padinya meningkat," kata Ketua Umum Panitia Aditya Noor SN. (Atiek Widyastuti H)

BERITA REKOMENDASI