Alasan Balon Udara Tidak Boleh Terbang Liar, Ini Alasannya

SLEMAN,KRJOGJA.com – Nono Sunariyadi, General Manager AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta mengatakan balon udara yang terbang tak sesuai ketentuan dapat membahayakan dunia penerbangan. Bahaya balon udara bagi penerbangan antara lain.

Balon yang terbang dapat tersangkut di sayap ekor atau flight control (elevator, rudder,  alleron). Jika tersangkut, pesawat akan susah dikendalikan atau kehilangan kendali. Balon tersebut menutupi bagian depan atau jarak pandangan pilot. Pilot kesulitan mendapat visual guldance dalam pendaratan, menutupi pilot tube atau hole. Informasi ketinggalan dan kecepatan pesawat tidak akurat, masuk ke dalam mesin pesawat, mesin mati atau terbakar atau meledak.

" Sangat mengganggu lalu lintas penerbangan. Kalau lepas itu kan enggak tau arahnya kemana. Yang ditakutkan balon itu masuk keruang udara operasional penerbangan, ini yang kita khawatirkan. Jika masuk ke dalam mesin pesawat, mesinya bisa kebakar yang didalam akan terkena dampaknya. Banyak nyawa yang dipertaruhkan," kata Nono kepada wartawan di kantor AirNev Yogyakarta, Jum'at (07/06/2019).

Kendati demikian, pihak AirNev memperbolehkan adanya kegiatan penerbangan balon udara namun dengan ketentuan yang sudah dibuat demi keamaman penerbangan. Masyarakat tidak dilarang menerbangkan balon udara asalkan sesuai dengan ketentuan Permenhub 40/2018.

Balon udara harus mempunyai warna yang mencolok,  garis tengah maksimum empat meter,  tinggi balon maksimal tujuh meter. Tinggi terbang  150 meter merupakan ketinggian maksimum.

Pun penggunaan balon udara juga harus diperhatikan. Pengguna harus menambak tiga tali dalam penggunaan balon udara, tidak boleh membawa bahan yang mudah meledak( tabung gas,  petasan dan lain-lain), diluar radius 15 km dari bandara, ketinggian maksimum 150 M pada uncontrolled space, dapat dilakukan pada pagi sampai dengan sore hari, ditambatkan pada tanah lapang yang jauh dari pemukiman, tiang listrik dan spbu, tiga hari sebelum digunakan harus lapor pemda kepolisian dan atau kantor otoritas bandar udara.

" Jika balon terlepas dari tali lapor ke pemda,  kepolisian dan atau kantor otoritas bandar udara, boleh digunakan pada kawasan  tertentu setelah mendapat izin dari TNI atau kantor otoritas bandar udara dan Airnev tujuh hari sebelum digunakan," pungkasnya.(Ive) 

BERITA REKOMENDASI