Alasan Janur Kuning Digunakan Saat Serangan Oemoem 1 Maret

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Para peserta upacara yang hadir di Monumen Jogja Kembali (Monjali) nampak mengenakan janur kuning yang dikalungkan di leher, Kamis (01/03/2018). Ternyata janur kuning ini memiliki makna tersendiri yang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

Kepala Bagian Operasional Monjali, Nanang Dwinarto mengungkap makna janur kuning sebenarnya digagas oleh Suharto saat itu. Tujuannya untuk membedakan pasukan perjuangan yang benar-benar ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Saat itu kan banyak penyusup dari Indonesia yang mendukung Belanda, jadi untuk membedakan ya pasukan yang benar-benar berjuang di Serangan Oemoem 1 Maret, untuk mempertahankan Indonesia. Janur kuning inilah yang digunakan untuk identitas,” ungkapnya.

Baca Juga : 

1500 Bambu Runcing di Monjali Pecahkan Rekor Dunia
Jadi Polemik, Apa Salah Kereta Kencana?

Gerakan yang kemudian dilaksanakan 1 Maret 1949 pukul 06.00 WIB tersebut akhirnya dinilai berhasil karena pasukan Belanda bisa tertahan hingga siang hari. Headline berita-berita internasional pun akhirnya mengungkap bahwa TNI masih kuat tidak seperti yang disampaikan Belanda sebelumnya.

Monjali saat ini juga berupaya mendukung 1 Maret sebagai hari nasional layaknya Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Berbagai upaya pun ditempuh untuk mewujudkan agenda tersebut.

“Salah satunya pemecahan rekor MURI bambu runcing terbanyak hari ini. Kami ingin menyampaikan bahwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949 memegang peran penting untuk mempertahankan kemerdekan bangsa Indonesia. Kami tidak berbicara satu-dua tokoh tapi peristiwanya yang tak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa,” sambungnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI