Aneka Tanaman di Lahan Sempit

Editor: Ivan Aditya

LAHAN sempit bukan halangan untuk mengembangkan hobi bercocok tanam, sekaligus melestarikan aneka tanaman buah yang mulai langka serta sayuran dan tanaman obat untuk keluarga (toga).

Adalah Sulistya PA (66) warga Gamplong 4, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman. Sejak pensiun dari Dinas Kehutanan DIY tahun 2011, Sulistya mencoba memanfaatkan lahan pekarangan atau kebun samping rumah seluas kurang lebih 200 meter persegi untuk tanaman aneka buah terutama yang sudah mulai langka, sayuran serta toga.

Di area kebunnya yang sejuk itu juga dibangun gazebo kandang sapi serta limasan ukuran 8 x 6 meter, yang membuat setiap orang betah berlama-lama menikmati berbagai jenis tanaman yang sudah hampir punah. Ada 41 jenis tanaman buah, sayuran dan toga yang dibudidayakan.

“Saya menanam kepel, sawo kecik, sirsat untuk jenis buah-buahan. Sedangkan sayuran antara lain lompong, cabe Jawa, dan berbagai jenis tanaman obat keluarga seperti brotowali, tapakdara, sembukan, dan masih banyak yang lain,” ujarnya di tengah kebunnya yang rindang, Sabtu (09/01/2021).

Menurut Sulistya, dengan menanam aneka buah yang hampir punah bisa mengenalkan kepada generasi muda mengetahui sekaligus tahu manfaatnya, selain untuk dikonsumsi juga untuk obat-obatan maupun jamu tradisional. Dengan demikian nantinya aneka tanaman yang mulai langka itu bisa dilestarikan, sekaligus dikembangkan dengan teknologi kekinian di bidang pertanian.

Selain tanaman buah yang mulai langka ada juga mangga, kelengkeng, durian, jambu, duku, rambutan, jeruk pecel, jeruk purut, srikaya, manggis, bonsai kelapa melengkapi area kebun miliknya. Uniknya, ketika aneka tanaman tersebut berbuah, yang dijual hanya buah rambutan dengan tebasan Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Sedangkan yang lain untuk konsumsi sendiri dan dibagikan kepada tetangga maupun sanak saudara yang datang.

Untuk merawat kebunnya, Sulistya bekerja mulai pukul 06.00-08.00, diawali bersih-bersih, penyiangan atau menghilangkan rumput, dan penyiraman. Yang paling berat ketika menyiapkan lahan tanaman, karena semua jenis tanaman buah harus dimasukkan ke tanah.

Setelah diisi dengan pupuk kandang, kemudian bibit tanaman dimasukkan ke dalam media tanam tersebut. Untuk kebutuhan pupuk kandang dalam setahun menghabiskan 30 karung yang dibeli Rp 15.000 perkarung, dan ketika akan berbuah ditambah NPK.

Dari kegiatan melestarikan tanaman buah yang mulai langka, sayuran dan tanaman obat keluarga inilah, Sulistya banyak menerima tawaran untuk pengembangan kebunnya baik untuk usaha kuliner berbasis tanaman atau lingkungan alam serta membuka usaha dagang yang lain.

“Saya sedang mempelajari cara penyetekan yang baik, agar tanaman bisa berkembang. Nantinya masyarakat yang berminat bisa belajar cara berkebun yang benar dan menghasilkan,” katanya pula. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI