Aplikas Pantau Bersama Ajak Masyarakat jadi Pemilih Cerdas

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pengerucutan kelompok pendukung Joko Widodo – Maruf Amin dan Prabowo Subiyanto – Sandiaga Uno semakin terlihat belakangan ini. Kedua kelompok seolah kian masif dan melegitimasi paling benar diantara lainnya.

Akhirnya, masyarakat yang sebenarnya tak ingin ikut dalam pusaran hanya menjadi penonton, malah semakin antipati untuk memberikan suara yang pada ujungnya malah berpotensi munculnya golput. Analogi sederhana tersebut mencuat dalam Srawung Demokrasi bertajuk Pantau Bersama Pemilu Waras Indonesia Cerdas bersama dua pembicara yakni Sabrang Mowo sebagai penggagas aplikasi Pantau Bersama dan Puthut EA salah satu pengamat politik di Warung Mojok, Senin (04/03/2019) malam.

“Saat ini banyak hastag-hastag di sosial media lebih membahas ibaratnya bagaimana orang memilih sopir tanpa tahu trayeknya ke mana. Sekarang ribut tentang sopirnya bukan mana trayeknya. Saya gatal melihat situasi ini dan ingin jadi manusia yang sebelumnya masih seperti simpanse. Saya buat aplikasi Pantau Bersama,” ungkap Sabrang Mowo yan akrab disapa Noe tersebut.

Dalam aplikasi Pantau Bersama yang sebenarnya telah diperkenalkan beberapa waktu lalu, Noe bersama beberapa kawan secara gotong royong berusaha mempertemukan masyarakat untuk kembali menggali gagasan dari masing-masing calon presiden. Masyarakat bisa memberikan pertanyaan yang nantinya 11 most popular akan disampaikan pada tim pemenangan resmi kedua capres untuk dijawab juga dengan resmi.

Platform Pantau Bersama dijanjikan Noe bisa kembali menjernihkan pertimbangan memilih karena akan menyandingkan gagasan kedua calon dengan seimbang. Hal tersebut diklaimnya berbeda dari cara kerja sosial media hari ini.

Di media sosial berbagai platform diakui Noe saat ini masyarakat akan sulit mendapatkan pertimbangan jernih dalam memberikan pilihan pada 17 April nanti. Pasalnya, media sosial memiliki algoritma ‘berjualan’ yang menggiring interest pengakses termasuk dalam hal ini pada pilihan capres.

“Kalau kita mencari di Google misalnya sepatu maka kalau buka mulai Facebook hingga YouTube maka iklan-iklannya ya sepatu itu. Sama ketika kita klik berita Jokowi ya yang keluar tentang Jokowi semua atau Prabowo ya Prabowo semua. Kita menjadi tidak bisa menilai dengan jernih lagi,” ungkapnya lagi.

Ada kuis-kuis menarik yang bisa dijawab para pengakses Pantau Bersama dan hasilnya pun tak jarang mengagetkan. “Mungkin yang kampret banget atau cebong banget bisa menjajal, seberapa kampret dan cebongnya kalian, dengan cara yang lebih manusiawi tentu saja,” kata Noe.

Sementara Puthut EA mengakui dewasa ini terjadi polarisasi yang begitu besar dan seluruhnya dikendalikan oleh elit politik. Politik menjadi tidak aksesible karena permainan yang tersistem dengan begitu masifnya.

“Pemantik utamannya ya dari elit politik itu sendiri dan elit ini bisa dari mana saja bisa parpol, ormas, pengusaha dan lain sebagainya. Pada akhirnya masyarakat biasa seperti kita yang harus memperbaiki keadaan dan Pantau Bersama ini inisiatif baik menggunakan teknologi untuk menjadi variabel positif,” tandasnya.

Suasana srawung sendiri berlangsung sangat cair dan hangat tak terbatas gojegan dan kekonyolan menyampaikan pendapat dari narasumber yang hadir termasuk moderator Iqbal Aji. Noe yang kali ini ditemani Patub gutaris Letto pun menyempatkan menyanyi beberapa lagu hits grup band tersebut untuk menghibur para peserta srawung. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI