Awan Panas Meluncur 1000 Meter, Rekomendasi dari BPPTKG Diubah

YOGYA, KRJOGJA.com – Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran, Senin (18/1) pukul 05.43 WIB. Awan panas tercatat di seismogram dengan amplitudo 22 mm dan durasi 112 detik. Jarak luncurnya sejauh 1.000 meter ke arah Barat Daya, hulu Kali Krasak. Teramati tinggi kolom awan panas 50 meter di atas puncak. Angin bertiup ke Tenggara. Pada hari itu juga, pukul 00.00-06.00 WIB, teramati guguran lava pijar 6 kali dengan jarak luncur maksimum 600 meter ke Barat Daya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Dr Hanik Humaida mengatakan, aktivitas Gunung Merapi saat ini memasuki fase erupsi yang bersifat efusif (sejak 4 Januari 2021) dengan pusat erupsi di sektor Barat Daya puncak, tepatnya di dasar Lava-1997.

”Seiring dengan terjadinya erupsi, maka aktivitas internal Gunung Merapi mengalami penurunan. Sehubungan hal tersebut kami sampaikan pemutakhiran rekomendasi terkait aktivitas vulkanik saat ini,” terang Hanik dalam keterangan tertulis, Senin (18/1).

Menurut Hanik, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi
efusif. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Selatan-Barat Daya meliputi Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Putih sejauh maksimal 5 Km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar menindaklanjuti perubahan potensi ancaman erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini dalam upaya mitigasi bencana. Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan. Pelaku wisata agar tidak melakukan
kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi. (Dev)

BERITA REKOMENDASI