Awas! Banjir Lahar Hujan Masih Potensial

SLEMAN, KRJOGJA.com – Ancaman banjir lahar hujan di alur-alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi, masih tetap ada dan perlu diwaspadai terutama saat terjadi hujan di puncak atau hulu sungai. Banjir lahar hujan tersebut tidak mengarah ke warga, namun mengancam para penambang pasir.

"Banjir lahar hujan itu jalurnya ya di situ-situ saja (alur sungai), sehingga kalau ada informasi di puncak hujan lebat dan berpotensi terjadi banjir lahar hujan, aktivitas penambangan sebaiknya dihentikan demi keselamatan," terang Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Agus Budi Santoso kepada KRJOGJA.com, Selasa (25/12/2017).

Menurut Agus, potensi ancaman tersebut atas dasar masih adanya endapan material vulkanik di puncak Gunung Merapi. Data  endapan material vulkanik tahun 2016 sebanyak 30 juta meter kubik dan terus berkurang, karena erosi dan penambangan. Saat ini diperkirakan kurang dari 20 juta meter kubik. Sedangkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi berdasar data perekaman di BPPTKG masih rendah atau tidak ada aktivitas yang berarti.  

Supervisor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Arman Nur Effendi mengatakan, kejadian terjebaknya satu alat berat excavator di Kali Gendol karena banjir lahar hujan, beberapa waktu lalu, disebabkan penambang tidak mengindahkan informasi dari relawan.

"Meskipun di area penambangan tidak hujan, namun dipuncak hujan lebat, sehingga saat banjir lahar hujan datang, tidak sempat memindahkan alat beratnya," ujarnya.

Arman mengakui bahwa informasi yang diberikan para relawan tidak mempunyai kekuatan untuk memaksa para penambang. Oleh karena itu ia berharap ada regulasi yang lebih tegas mengatur tentang informasi peringatan dini ancaman banjir lahar hujan, demi keselamatan.
"Sejauh ini kami cuma bisa mengimbau para penambang pasir di alur-alur sungai, agar mematuhi peringatan dini potensi banjir lahar hujan yang diberikan relawan, petugas BPBD maupun petugas BPPTKG yang ada di pos pantau," pungkasnya.

Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, potensi banjir kian berkurang. Pasalnya material yang ada di puncak sudah tidak banyak lagi. Meski demikian jika ada yang beraktivitas dialur sungai tetap saja berbahaya. Kalau hanya di bantaran saja tidak apa-apa.

Untuk potensi hanya di Kali Gendol saja. Tepatnya di Dusun Kaliadem Desa Kepuharjo Cangkringan yang berjarak sekitar 6-7 kilometer dari puncak. Sedangkan untuk sungai lain yang juga berhulu di Gunung Merapi, seperti Kali Kuning dan Kali Boyong relatif lebih kecil. Apalagi saat ini aktivitas galian C yang berizin juga hanya ada di Kali Gendol.

"Sekarang ini aktivitas galian C izinnya langsung ke propinsi. Dalam hal ini Pemda DIY. Dan izin yang turun hanya ada di Kali Gendol," ungkap Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan, Senin (25/12/2017).

Lahan hujan terjadi jika air hujan yang ada di puncak Merapi tidak semuanya bisa diresap. Akibatnya air tersebut meluap ke permukaan. Dikarenakan membawa material berupa pasir atau batu yang mudah terbawa oleh aliran.

Sejauh ini aktivitas penambangan di alur Kali Gendol hanya ada di sisi atas saja. Dan di lokasi itu yang menjadi bahaya. Mengingat disana ada masyarakat yang sedang melakukan galian C. "Namun tetap saja di sepanjang alur sungai itu tetap harus diwaspadai. Karena kita tidak tahu seberapa besar aliran yang datang," ungkapnya.

Terkait informasi bahaya banjir lahar ataupun bencana yang lain, selama ini selalu diinformasikan melalui frekuensi BPBD. Mulai dari yang terjadi hujan dimana saja, intensitasnya seberapa hingga himbauan agar waspada. Untuk itu, diharapkan mereka yang beraktivitas di sungai juga aktif memantau frekuensi tersebut.

Makwan menambahkan, bagi pengusaha yang melakukan aktivitas penambangan diharapkan juga memiliki kesadaran bencana. Apalagi di sungai yang potensi banjirnya pasti ada.

"Aktivitas galian C itu memiliki resiko. Semestinya memang sudah memiliki fasilitas untuk mitigasi bencana. Ada upaya untuk mengajukan izin, semestinya juga dilengkapi dengan safety," tegasnya

Senada juga diungkapkan relawan dari komunitas Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB) Merapi, Supriyadi. Pria yang akrab disapa Jikun tersebut menuturkan, jika pengusaha itu mampu membeli alat berat seharga miliaran. Semestinya juga mampu membeli handy talky (HT) serta menempatkan beberapa orang untuk berjaga.

Dari masyarakat setempat sendiri sejak setahun terakhir sudah memasang spanduk peringatan. Jika sudah mendung, harus waspada. Hujan harus segera naik dari dasar sungai. Ada sekitar 20 spanduk yang dipasang warga di sepanjang jalur tambang.

"Tapi paling sebentar ya tinggal satu atau dua. Banyak yang sudah hilang. Dengan spanduk itu, kami berharap siapa saja yang beraktivitas di sungai dapat lebih waspada secara mandiri," ungkapnya.(Ded/Awh)

 

BERITA REKOMENDASI