Bandar Arisan KCA Resmi Berstatus Tersangka

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Polda DIY akhirnya menetap tersangka terhadap NW, penyelenggara arisan online Kim Central Asia (KCA). Walau sudah berstatus tersangka namun Polisi belum melakukan penahanan terhadap wanita tersebut. Tak menutup kemungkinan masih ada tersangka lain dalam kasus ini, pasalnya para member (peserta arisan) yang berada di slot atas juga dinilai bertanggungjawab atas macetnya arisan.

“Karena kita masih melakukan proses pemeriksaan, jadi belum dilakukan penahanan. Profesinya sebagai bandar. Ada kemungkinan tersangka lain,” tegas Dirreskrimum Polda DIY, Kombes Pol Burkan Rudi Satria didampingi Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yuliyanto saat konferensi pers di mapolda setempat, Kamis (30/06/2021).

Penetapan tersangka terhadap NW berdasar atas 16 laporan yang dibuat oleh para member korban arisan KCA. NW ditetapkan sebagai tersangka karena perannya sebagai bandar atau penyelenggara arisan. “Kenapa kita menentukan tersangka bandar, karena bandar ikut bermain mentukan slot atas,” tambahnya.

Burkan Rudi Satria mengungkapkan total kerugian para member sejauh ini yang ditemukan penyidik dalam arisan KCA kurang lebih mencapai Rp 5 miliar. Jumlah tersebut terhitung saat arisan dibuka sejak September 2020 hingga Januari 2021.

Uang arisan menurutnya dipergunakan bandar untuk memenuhi gaya hidup. Karena sudah kehabisan uang untuk membayar arisan, akhirnya bandar membuka table baru guna menutup arisan sebelumnya.

“Setelah kita telusuri lagi bandar habis untuk gaya hidup, untuk berwisata ke sana ke sini, membeli barang-barang mahal dan sebagainya. Akibatnya antara pendapatan dengan jumlah arisan yang diikuti tidak berimbang,” jelasnya.

Untuk melanjutkan arisan, NW juga terungkap menggunakan joki. Bersama joki, NW memasang mereka di slot atas kemudian membuka table baru sehingga para member percaya lalu tertarik untuk mengikutinya.

“Bandar mencoba menyiasati, misalnya dia membuka slot yang lain dengan menarik peserta yang lain tapi menggunakan joki. Orang-orang yang sudah ter-blacklist karena tidak membayar diganti orang lain, sehingga peserta lain tertarik ikut lagi. Begitu didapat ternyata orang ini adalah joki orang yang macet tadi,” tambahnya.

Korban dari arisaan online ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha, karyawan bahkan hingga istri para pejabat. Tak hanya di wilayah DIY saja, para korban juga ada yang berasal dari Surabaya, Jakarta, Bali sampai NTB.

Terhadap NW, penyidik mengenakan pasal 378 KUHP tentang penipuan dan 372 soal penggelapan. Sejauh ini barang bukti yang yang berhasil disita yakni print out serta rekening koran transaksi pembayaran. (Van)

BERITA REKOMENDASI