Belajar di Sleman, Jateng Segera Terapkan ‘Sekolah Menyenangkan’

SLEMAN, KRJOGJA.com – Perwakilan guru SMA, SMK dan pejabat Dinas Pendidikan Jawa Tengah mengunjungi dua sekolah model Gerakan Sekolah Menyenangkan, yakni SMPN 2 Sleman dan SDN Rejodani. Kunjungan ini digelar dalam rangka persiapan penerapan GSM di seluruh area Jawa Tengah berdasarkan instruksi Gubernur Ganjar Pranowo. 

Kepala Bidang Pembinaan SMK Jawa Tengah Hari Wuljanto mengakui GSM menyasar akar masalah pendidikan secara akurat karena memusatkan perhatian pada perubahan paradigma guru. "Hal ini merupakan satu hal filosofis yang kerap kali dilupakan oleh pendidikan Indonesia. Seumpama pohon, kita selalu mengevaluasi buah-buahan yang muncul, sementara melupakan bahwa masalahnya ada di akar yang tidak tumbuh subur. Harapannya, studi banding ini dapat mengoptimalkan workshop yang akan diberikan pada tengah Agustus mendatang," ungkap Hari Walujanto.

Menurut Hari sebagai pemerhati pendidikan selalu menilai anak-anak, namun lupa bahwa ada masalah yang lebih mendasar dalam paradigma pendidikan. Adapun GSM bergerak dalam aspek ini dengan menggemburkan tanah dan membuat akar pendidkan sehingga aspek lain berkembang dengan optimal.

Karena itu, kata Hari mengakui Dinas Pendidikan setempat akan bergerak cepat untuk menerapkan sekolah menyenangkan di level SMA dan SMK. Rencananya, dinas akan mengadakan workshop Sekolah Menyenangkan pada 13-15 Agustus mendatang.

Sementara itu, pendiri GSM dan Dosen Teknik Universitas Gadjah Mada Muhammad Nur Rizal membenarkan adanya perjuangan untuk mengubah paradigma pendidikan. Guru tidak boleh sekadar transfer pengetahuan. "Apa yang diberikan bukan cuma materi dan nalarnya bukan standardisasi, tetapi harus terpusat pada kodrat manusia, yakni mengasah imajinasi dan kolaborasi,” ujarnya.

Dalam diskusi di SMPN 2 Sleman, Rizal juga bicara mengenai asal-muasal pergerakan pemerintah Jawa Tengah dalam penerapan GSM. Semula, GSM sudah lebih dulu menyebarkan perubahan di sekolah-sekolah pinggiran di Sleman. Pengaruh positif ini kemudian tersebar hingga Tangerang dan Tebuireng. Dari bukti perubahan itu, isu GSM akhirnya sampai ke telinga Gubernur Jawa Tengah.

Rizal menyebut gerakan akar rumput ini merupakan model paling relevan di era industri 4.0. Kebijakan tidak lagi bermula dari pemegang kekuasaan, namun daru suara masyarakat. Sudah waktunya rakyat menyuarakan kebutuhannya secara massif, baru kemudian kebijakan yang dibuat sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Pendapat senada diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Sleman Sri Wantini adanya kebutuhan mendasar terhadap GSM di area yurisdiksinya. GSM sudah melakukan perubahan nyata di sekolah-sekolah Sleman dan tuntutan besar dari masyarakat membuat Pemerintah setempat tergerak. "Dinas Pendidikan menyambut tuntutan ini dengan positif dan kami berencana untuk menetapkan Peraturan Bupati terkait penerapan GSM,” tandasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI