Berbagi Energi Positif Wujudkan Masyarakat Inklusi

SLEMAN, KRJOGJA.com – 148 insan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR) dari 75 kabupaten/kota Indonesia berkumpul di Yogyakarta selama tiga hari 6-8 November 2018. Para pegiat pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang tersebut berbagi energi positif untuk mewujudkan masyarakat inklusi di 75 ribu desa di seluruh Indonesia. 

Abdi Suryaningati Team Leader Program PEDULI The Asia Foundation dalam pembukaan di Grand Mercure Hotel Selasa (6/11/2018) mengungkap bahwa hari-hari ini Indonesia masih menghadapi masalah ketidaksetaraan terutama pada masyarakat yang mendapat stereotype marjinal. Padahal, sebenarnya kelompok masyarakat tersebut memiliki potensi yang tentu saja harus ikut menikmati hasil pembangunan Indonesia. 

“148 orang yang berkumpul di Yogyakarta ini adalah yang punya aksi nyata mewujudkan inklusi sosial dalam masyarakat di wilayah masing-masing. Kegiatan di Yogya ini adalah ruang berinteraksi sehingga orang-orang PINTAR ini bisa menciptakan gerakan massal mendengungkan Indonesia yang setara dan bermartabat,” ungkapnya. 

Para peserta insan PINTAR tersebut berasal dari berbagai daerah dengan konsentrasi hal-hal yang berusaha diatasi. Ada pegiat disabilitas, masyarakat desa tertinggal hingga isu transgender yang masih menjadi perdebatan. 

“Tiga hari ini harus benar-benar dimaksimalkan untuk membangun relasi, bertukar cerita dan mimpi yang bisa menyemangati kita semua. Dengan kata lain kita semua berbagi energi positif, satu per satu akan bercerita karena tiap orang di lain daerah menghadapi problem yang berbeda,” sambungnya. 

Sementara Bito Wikantosa, Direktur Pelayanan Sosial Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menyampaikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan secara nyata insan PINTAR dalam mengurai permasalahan yang ada di tingkat masyarakat. Kementrian menurut dia sangat mendukung dan membuka mata dalam wujud merumuskan kebijakan berdasarkan pengalaman nyata di lokasi. 

“Desa yang digerakkan oleh anda semua hadir di sini menjadi sebuah wajah baru, yang berdasarkan kemanusiaan. Inovasi, kerja keras dan dedikasi teman-teman membuat kami di Kementrian belajar banyak hal bagaimana membangun desa yang inklusif,” ungkapnya. 

Bito mengatakan bahwa pemerintah menyadari betul luar biasanta kinerja insan PINTAR yang menjangkau langsung masyarakat dengan berbagai masalah yang dihadapi. Pengalaman inilah yang nantinya akan dijadikan rujukan pemerintah dalam menelurkan kebijakan terkait masyarakat desa. 

“Kami dengarkan kisah dari kawan program peduli dan kami masukkan program desa inklusi pada peraturan menteri desa. 4 tahun implementasi dana desa adalah sulit menghadirkan narasi dalam tindakan. Ini adalah gerakan sosial dan kita mulai dari 200 desa untuk menuju 75 ribu desa. Setiap desa itu punya keunikan dan ini panggilan hidup kita semua untuk menularkan keahlian pada desa yang lain. Apa yang dihasilkan anda semua dari kerja keras tak bisa hanya dirumuskan dalam teks saja,” sambung dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI