Bertanam Singkong, Manfaatkan Lahan Kosong

Editor: Ivan Aditya

PEPATAH Jawa mengatakan, ‘wong kuwi angger gelem obah mesthi mamah’ yang artinya setiap orang harus bekerja pasti akan mendapatkan rezeki. Tentang besar kecilnya rezeki Tuhan YME yng mengatur, manusia sekedar menjalani dalam kehidupan sehari-hari.

Adalah, Jemikin (68) atau yang akrab dipanggil Kang Ikin warga Gamplong 1 Sumberrahayu Moyudan Sleman sebagai petani penggarap boleh dikatakan rajin setiap hari menyambangi tanah garapannya baik yang berupa tanaman padi maupun palawija khususnya singkong. Sebagai petani penggarap, Jemikin tidak punya tanah sendiri, melainkan menyewa tanah milik orang lain dengan cara bagi hasil.

“Sejak 6 tahun yang lalu saya menyewa tanah milik orang lain, untuk saya tanami singkong secara bagi hasil,” ujarnya, Sabtu (05/11/2020).

Jemikin sangat jeli, melihat lahan kosong milik tetangga atau orang lain desa yang tidak dimanfaat kan. Setelah dirembug dan sepakat, tanah itu disewa untuk ditanami singkong, disela kegiatan menanam padi disawah.

Menanam singkong memang keahliannya sejak kecil, sebagai petani Jemikin akrab dengan tanah lendhut, batang singkong maupun daunnya. Saat ini hampir 1 hektar lahan kosong milik tetangga maupun orang di luar desa yang disewa, untuk tanaman singkong yang jumlahnya hampir 2000 batang jenis singkong ketan. Tanah kosong yang disewa menyebar, mulai dari Dukuh Tapen, Argosari, Sedayu, Bantul 3 tempat, Gamplong 4 ada 2 tempat dan Gamplong 5 ada 3 tempat.

Jemikin memilih singkong jenis ketan, karena rasanya cenit-cenit tidak pliket, gurih enak mempur atau tidak nyontrot sehingga banyak yang suka.

Mulai dari mencangkul dhongkel pertama, kemudian tanam, dhangir, pupuk serta pemeliharaan rutin membersihkan rumput liar, Jemikin menghabiskan modal kurng lebih Rp 600.000. Setelah 8 bulan agar hasilnya maksimal, baru bisa dipanen, meski pada usia 6 bulan pun singkong sudah kelihatan umbinya dan kalau terpaksa bisa dipanen.

“Untuk kebutuhan pupuk saya menghabiskan hampir 2 kwintal jenis puska dengan harga Rp. 8.000 per kilogram,” tambahnya.

Meski hanya bisa panen satu kali setahun, namun bagi Jemikin sudah mendatangkan keuntungan sebagai petani penggarap, karena disela tanaman singkong bisa ditanami jenis palawija yang lain seperti, jagung umur pendek atau sayuran jenis kangkung, kol, terong dan lain sebagainya. Namun yang utama tetap menanam singkong, sebagai penghasil pokok.

Dari keuntungan menanam singkong jenis ketan, Jemikin mampu meraup penghasilan yang layak, tidak kurang 2 ton setiap panen yang dijual dengan harga Rp. 4000 per kilogram. Singkong hasil tanamnnya, sudah ditunggu para bakul pasar biasanya dari wilayah Bantul, disamping para tetangga yang nempil untuk camilan.

“Tahun kemarin sebelum Pandemi Covid-19 hasil tananam singkong saya bisa untuk membeli sepeda motor,” ujarnya dengan bangga tanpa menyebut motor baru atau bekas serta merk-nya.

Jemikin tetap bersemangat dengan keterampilannya menanam singkong di lahan kosong, karena menurutnya siapa yang tlaten, tekun mesthi ngundhuh. Siapa yang menanam kebaikan pasti akan merasakan hasilnya suatu kebaikan, ‘sapa nandur becik mesthi bakal ngundhuh becik’. Karena dengan tanaman singkong, ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya yang saat ini tinggal bersama isteri, 3 anak dan 8 cucu, meski nak-anak sudah berumah tangga sendiri. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI