Bikin Maskot Takbiran, Antara Tantangan dan Kreatifitas

Editor: KRjogja/Gus

ANTUSIAS peserta mengikuti lomba takbir saat malam Hari Raya Idul Adha maupun hari Tasyrik cukup tinggi. Pasalnya, ada banyak segi positif dapat diraih seperti memupuk rasa kebersamaan sampai menjadi tantangan tersendiri dalam membuat maskot takbir.

Seperti halnya remaja Masjid Al Falaah Mertosutan Sleman menyiapkan dua maskot wujud sapi serta kambing peranakan etawa (pe) untuk mengikuti lomba takbir yang diprakarsai Angkatan Muda Muhammadiyah Godean, Jumat (24/8) malam. Pembuatan maskot di halaman rumah dukuh setempat Arif Darmawan yang juga mantan ketua pemuda dusun setempat.

“Setiap mengikuti lomba takbir, remaja masjid di sini selalu tertantang untuk berkreasi membuat maskot, antara lain pernah wujud Ka’bah, kapal, semut dan sekarang ini sapi dengan kambing pe,” jelas Arif, baru-baru ini.

Pembuatan maskot, lanjutnya, sudah biasa dilakukan beberapa minggu sebelum hari H. Tak jarang saat hari libur dikerjakan lembur sampai tengah malam. Kerangka maskot cukup menggunakan bilah-bilah bambu lalu diikat dengan kawat. Bahan lain yang digunakan seperti beberapa jenis kertas, cat dan aneka asesoris termasuk lampu-lampu hias.

Sementara itu Yusuf Maulana dari Masjid Besar Mangkuyudan Yogya siap mengikuti lomba takbir yang digelar AMM Kota Yogyakarta, pada hari yang sama. Rutenya, yakni Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju Titik Nol Kilometer Yogya. Pihaknya sudah mempunyai maskot wujud replika masjid terbuat dari kayu triplek dan finishingnya diberi aneka pernak-pernik menarik.

“Kabilah kami sekitar 100 orang dari jemaah Masjid Besar Mangkuyudan. Sebagian ada yang khusus sebagai pemusik menggunakan alat-alat musik khas drum band,” jelas Yusuf sembari menambahkan, pada lomba yang sama tahun lalu berhasil menjadi juara umum dan membawa trofi bergilir.

Lain halnya kabilah dari Masjid Al Jihad Godean Sleman akan membawa maskot masjid dan mengikuti lomba takbir yang dilaksanakan AMM Kota Yogya. Pasalnya, ketika mengikuti yang digelar AMM Godean sudah biasa langganan juara. Setiap mengikuti lomba takbir, bahkan dibentuk kepanitiaan tersendiri, antara lain ada seksi penggerak massa, maskot, lampion, pemusik dan kostum.

“Selalu bisa menjaga kekompakan, bersemangat, kreatif, sopan, rapi, indah dan bersih termasuk beberapa hal penting yang terus kami jaga setiap mengikuti lomba takbir,” tegas salah satu pengurus takmir Al Jihad, Luthfi SR.

Pembuatan maskot takbir, lanjutnya, banyak dikerjakan remaja masjid setempat di kompleks masjid. Kerangka menggunakan kayu dan bambu, penutupnya menggunakan nafa dan finishing menggunakan gabus. Dana yang dikeluarkan dari kas masjid untuk membuat maskot Rp 1,5 juta. Pemilihan bahan nafa, yakni mirip vinyl tapi lebih tipis, antara lain awet, kuat dan saat terkena lampu, cahayanya bisa lebih keluar. Selain itu pilihan warna nafa cukup beragam. (Yan)

BERITA REKOMENDASI