Budi Tak Ingin Anaknya Jadi TKI Ilegal

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Raut muka Ismiyati tak dapat menyembunyikan rasa haru tatkala tim dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) datang ke rumahnya di kawasan Desa Sinduharjo, Jalan Kaliurang km 10, Selasa (29/10/2019). Istri dari Budi Prabowo (38), TKI yang mengalami kecelakaan di Taiwan harus menelan pil pahit pasca sang suami tidak dapat bekerja, praktis ia menjadi tulang punggung.

Suaminya saat ini hanya dapat tergolek lemah di tempat tidur reyot pasca dilakukan operasi tempurung otak. Kondisinya juga sudah tidak memungkinkan untuk dapat bekerja kembali. Atas kejadian yang menimpa suami, Ismiyati mengaku trauma dan tidak memperbolehkan anak semata wayangnya, Firmansyah menjadi TKI apalagi dengan jalur ilegal.

Baca juga :

Kirab Bedhol Prodjo, Puncaki Gelar Budaya Mataram
Calon Perorangan Harus Dapat 52.026 Dukungan

Kepala BP3TKI DIY, Suparjo SH saat memberikan santunan kepada keluarga Budi Prabowo menceritakan kejadian bermula pada 2016 saat Budi menjadi TKI dengan bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan di Taiwan. Dalam perjalanannya Budi tidak betah dan akhirnya kabur.

"Budi kemudian bekerja sebagai cleaning service di sebuah perusahaan. Karena kabur dari tempat kerja semula maka ditempat kerja baru dia berstatus ilegal. Kemudian saat bekerja tahun 2019 ia mengalami kecelakaan terjatuh dari lantai dua dan mengalami koma. Dirawat di RS Taiwan menghabiskan dana sekitar Rp 357 juta. Karena dia masuk dalam keluarga miskin maka bea perawatan ditanggung oleh sharing bersama antara masyarakat pekerja imigran, NGO dan beberapa pihak," jelasnya.

Kemudian pada 22 Oktober kemarin ia dipulangkan ke Jakarta dan dirawat di RS Polri untuk dilakukan operasi otak dan ditanggung BNP2TKI. Biaya menghabiskan dana R0 100 juta ditanggung negara.

"Kami ingin sampaikan jika mereka statusnya pekerja resmi harusnya ada hak hak perawatan. Semua dibiayai asuransi. Tetapi jika ilegal tidak ada asuransi. Kami berharap TKI berangkat dan pulang hendaknya melalui prosedur legal. Memang bekerja menjadi TKI berat, namun harus istiqomah karena sudah ada kontrak tidak bisa langsung putus begitu saja," urainya lagi.

Budi Prabowo merupakan warga Ngawi Jawatimur, di Sleman ia tinggal bersama istri dan anak, Firmansyah yang saat ini duduk kelas 1 SMK. Bekerja di kapal tangkap perikanan di Taiwan mendapatka  gaji kisaran Rp  7 juta hingga Rp 8 juta.

Sementara, sang istri, Ismiyati mengaku sudah pasrah dan rela suaminya tidak dapat bekerja seperti sedia kala. Meski demikian ia optimis kondisi Budi berangsur membaik pasca operasi pemasangan tempurung kepala. Untuk kontrol sehari-hari telah dikaver BPJS di RS Panti Nugroho.

Kepada wartawan, Ismiyati mengaku jika suaminya tidak ingin Firmansyah menjadi TKI seperti dirinya. "Sementara sehari-hari saya menjadi tulang punggung dengan membuka jahitan," keluhnya. (Aje)

BERITA REKOMENDASI