Buruh Perempuan Bersuara, Harapkan Sejahtera dan Perlindungan di Hari Ibu

Editor: Ary B Prass

SLEMAN, KRJOGJA.com – Dalam rangka memperingati Hari Ibu yang jatuh tanggal 22 Desember, Forum Komunikasi Buruh Bersatu (FKBB Jateng—DIY) menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Budaya di Balai Utari kompleks gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta. Buruh perempuan menyampaikan harapan agar kesejahteraan mereka bertumbuh yang dituangkan dalam karya seni dan budaya.

Acara tersebut mengambil tajuk ‘Perjuangkan Kesejahteraan Buruh Perempuan’ dan menampilkan karya-karya seni dan budaya dari buruh perempuan di Yogyakarta yang menjadi bagian dari FKBB Jateng—DIY. Ada pertunjukan karya puisi, ada pameran lukisan, dan panggung musik juga diskusi publik yang menghadirkan beberapa narasumber, seperti Yuni Satia Rahayu, anggota DPRD DIY, Dr Sri Wiyanti Eddyono dosen FH UGM, dan Sriyati  sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY.

Serikat Pekerja dan Serikat Buruh yang tergabung dalam FKBB Jateng—DIY menginisiasi acara itu untuk memberi apresiasi dan mendorong perlindungan yang lebih baik bagi buruh perempuan. Hari ibu dirasa menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali betapa perempuan seringkali menjalani pekerjaan berlipat ganda, harus menjadi tulang punggung dan di rumah dan menjadi pelayan bagi suaminya.

Dr Sri Wiyanti Eddyono memaparkan hasil penelitiannya berkaitan kekerasan terhadap buruh perempuan Indonesia. Berdasarkan hasil penilitiannya sampai hari masih banyak sekali kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, meskipun tidak kurang kasus-kasus yang sudah ditindak secara hukum.

“Dibutuhkan peran banyak pihak untuk menghentikan kasus kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk di dalamnya pelecehan seksual terus mengalami perkembangan. Tentang pelecehan seksual, misalnya diatur secara lebih terperinci dalam penjelasan CEDAW No 19/1992. Adapun yang terbaru, yakni CEDAW 2017 yang disusun berdasarkan perkembangan zaman saat ini, seperti perlindungan terhadap reproduksi, kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, dan kekerasan seksual via internet atau di dalam dunia digital,” ungkapnya.

BERITA REKOMENDASI