Cerita Tedi Wintoko, Kembalikan Racikan Soto Empal Nenek ke Yogyakarta

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pasangan suami istri Tedi Wintoko dan Endah Cahyaningrum, warga Kalasan Sleman membuka sebuah ruang makan bernama Soto Empal Kenanga, tak jauh dari Candi Sambisari. Bukan tempat makan biasa, warung soto yang asri dan bersih ini ternyata membawa cerita masa lampau yang menyematkan nostalgia nenek moyang di dalamnya.

Betapa tidak, soto empal ini dahulu dibawa dari Yogyakarta menuju Bengkulu pada tahun 1936 oleh nenek dari Tedi Wintoko. Kala itu kakek dan nenek Tedi bekerja pada perkebunan Belanda yang membuat keluarga itu harus bermigrasi ke Bengkulu.

“Saat itu, kakek bekerja di kebun dan nenek jualan soto di kawasan perkebunan itu. Ya soto yang resepnya dibawa dari Yogya pada tahun 1936 itu. Sotonya seperti ini, kuahnya bening dengan rasa yang tetap gurih dengan empal dari daging kerbau. Setahu saya sampai SMA sebelum ke Yogya ya soto khas Yogya seperti itu,” ungkapnya, Rabu (03/03/2021).

Karakter Soto Empal Kenanga memang berbeda dari soto-soto yang saat ini kondang di Yogyakarta. Hal itu sempat membuat Tedi bingung saat merambah Yogyakarta pada masa SMA sejak tahun 1993 lalu.

“Saya kan sejak kecil sama simbah didoktrin soto Yogya itu yang seperti dimasak beliau, kuah bening dan citarasa yang gurih, isiannya soun dan tauge. Begitu saya ke Yogya SMA itu bingung, kok sotonya beda. Nah dari situ saya mencari tahu lalu kemudian menemukan perbedaan yang ternyata sama-sama enak. Akhirnya mulai berani meneruskan menu itu, dengan membuka warung Soto Empal Kenanga ini,” lanjutnya.

Racikan bumbu soto empal kreasi Tedi ini memang berbeda di mana seluruh bumbu tidak ditumbuh halus melainkan diiris. Itulah yang membuat kuah soto menjadi bening dan tidak terlalu keras aromanya.

“Saya mengembalikan menu simbah saya ke Yogya. Sejak 1936 itu beliau tak pernah kembali ke sini, jadi biarlah menunya yang kembali. Ini menarik untuk saya, bagaimana saya melestarikan bumbu dari nenek saya. Menambah kekayaan khasanah soto di Yogya-lah harapannya,” lanjut pria yang juga berprofesi di bidang teknologi ini.

Lauk pendamping soto ini memang cukup berbeda karena menyajikan empal kerbau dan sapi yang seluruhnya dari daging pilihan. Daging kerbau didatangkan langsung dari India yang membuat citarasa menarik ketika dipadukan dengan kuah soto.

“Kami juga berupaya menyajikan makanan yang bersih dan enak. Ini mengapa tempat dan kualitas makanan berupaya dijaga. Kami ingin mengajak penggemar soto untuk menikmati racikan nenek moyang saya, yang enak dengan tetap mengutamakan kebersihan,” lanjut dia.

Sementara, Endah Cahyaningrum menambahkan racikan soto empal dijual dengan harga Rp 9 ribu. Untuk menu tambahan empal sapi dan kerbau dijual dengan harga Rp 25 ribu.

“Kami berupaya menu ini bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Mudah-mudahan bisa diterima dan menambah kekayaan menu soto di Yogyakarta,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI