Debit Air Turun Hingga 30 Persen, Embung Jadi Idola Tempat Mancing

SLEMAN, KRJOGJA.com – Panjangnya musim kemarau berimbas pada turunnya debit air sejumlah embung. Penurunannya mencapai 20-30 persen. Hal ini berdampak pada pemenuhan kebutuhan air untuk sawah atau irigasi.

Baca Juga: "Semangka Aku Pernah Dipegang"

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Sleman Sapto Winarno mengatakan hal tersebut, Jumat (23/8/2019). Menurutnya, dari 25 embung yang tersebar di Kabupaten Sleman hampir semua debit airnya turun antara 20-30 persen. Penurunan debit air selalu terjadi setiap masuk musim kemarau.

"Turunnya debit air di embung ini, harus menjadi perhatian petani. Karena embung biasanya dimanfaatkan airnya untuk irigasi. Jika dipaksakan tetap tanam padi, padahal airnya tidak ada. Dikhawatirkan justru jadi puso," ungkapnya.

Meski demikian, penurunan debit air ini menurut Sapto masih dalam batas wajar dan aman. Pasalnya, setiap kemarau memang terjadi penurunan air permukaan. Namun untuk mata air biasanya lebih besar.

Dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mlati juga sudah menginformasikan perihal mundurnya musim kemarau ini. Informasi disampaikan ke instansi terkait. Salah satunya DPUPKP.

"Sudah kita sampaikan ke instansi terkait. Seperti dinas PU, karena berkaitan dengan jadwal buka tutup waduk. Ada prakiraan cuaca bulanan juga dapat memperkirakan berapa debit air yang akan di alirkan untuk irigasi," kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas.(Awh) 

BERITA REKOMENDASI