Desa/Kampung Wisata di DIY Bisa Jadi Industri Kreatif

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pariwisata di DIY bisa dijadikan industri kreatif, dengan caran mengembangkan potensi budaya, alam, dan ekonomi yang mampu memberikan kesejahteraan masyarakat. Termasuk para pegiat Desa/Kampung Wisata di DIY dituntut mampu menciptakan kemasan secara kreatif dan inovatif, menyesuaikan tuntutan zaman. Dengan demikian Desa/Kampung Wisata akan menjadi daya tarik para wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara.  

"Kini, saatnya 132 Desa/Kampung wisata di DIY untuk mengelola potensi masing-masing secara profesional dan mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo, dalam Refleksi Akhir Tahun 2019 yang diselenggarakan Forum Komunikasi (Forkom) Desa/Kampung Wisata DIY, Jumat (27/12/2019) di area Desa Wisata Tebing Breksi Sambirejo Sleman. Refleksi ini menghadirkan sejumlah narasumner. 

Menurut salah satu narasumber, Nuke Widyaningum Ayundria (Staf Asisten Separtemen Pengembangan Wisata Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), untuk pengembangan Desa/Kampung Wisata, pengelola bisa melakukan pelatihan sumber daya manusia dan bisa bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selain itu juga dapat bersinergi dengan Pemerintah Daerah. "Dalam era global saat ini, pengelola Desa/Kampung Wisata harus punya strategi promosi, dengan memanfaatkan jejaring sosial," paparnya.

Ketua Forkom Desa/Kampung Wisata DIY Tri Harjono mengungakapkan, jumlah Desa/Kampung Wisata di DIY semakin berkembang. Pada tahun 2018 ada 214 Desa/Kampung Wisata, tahun 2019 menjadi 132 Desa/Kampung Wisata. "Untuk membangun kebersamaan, berinteraksi silaturahmi para pengelola Desa/Kampung Wisata di DIY dengan Dinas Pariwisata DIY, mengadakan Refleksi Akhir Tahun secara rutin selama empat tahun ini. Forkum Desa/Kampung Wisata DIY juga berkerja sama dengan PT Telkom, terutama untuk mendukung promosi Desa/Kampung Wisata di DIY," jelasnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, Udhi Sudiyanto kepada KR juga mengatakan, pelaku industri pariwisata atau insan pariwisata di DIY harus memberikan sesuatu yang baru bagi wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke DIY. Sesuatu yang baru inilah yang akan menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan, termasuk wisatawan repeater agar, tidak bosan berkunjung di DIY.

Menurutnya, harus ada destinasi wisata yang baru di DIY bagi wisatawan, khususnya wisatawan domestik yang sudah sering berkunjung di DIY. "Tren pariwisata sekarang ini, wisatawan selalu ingin ke alam dan berpetualang atau outdoor, tidak lagi di dalam gedung atau indoor. Apapun bentuk kegiatannya. Sesuatu yang baru dan lebih menantang itu di antaranya rafting, susur goa, termasuk spot selfie," tandas Udhi.

Udhi Sudiyanto yang juga Direktur Antar Anda Tour and Travel, menyebutkan bahwa Desa/Kampung Wisata di DIY memang mempunyai market atau pasar wisatawan tersendiri. Karena itu desa wisata harus mengikuti tren pariwisata dengan menampilkan sesuatu yang lebih unik dan baru, sehingga akan dikejar wisatawan.

Dikatakan, pasar wisatawan di DIY masih didominasi wisatawan domestik daripada wisatawan mancanegara, khususnya selama liburan akhir tahun ini. "Salah satu yang bisa disuguhkan desa wisata biasanya makanan khas tradisional dan kehidupan tradisional. Yang juga menjadi keunggulan Desa/Kampung wisata adalah keramahan masyarakat setempat, yang harus dipertahankan," tegasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Dra Sudarningsih MSi, mengakui bahwa keberadaan desa wisata punya kontribusi dalam menyumbang wisatawan di Kabupaten Sleman, yakni sekitar 5 persen. Saat ini ada 44 desa wisata dengan berbagai jenis unggulan. "Kontribusi yang kami hitung itu berapa lama tinggal di desa wisata, bukan tingkat kunjungannya. Soalnya semakin lama tinggal di desa wisata, dampak ekonomi di desa wisata sangat besar. Tapi kalau hanya kunjungan, peningkatan ekonomi belum optimal," tandasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo SSos MM, juga mengungkapkan bahwa ke depan perlu gagasan baru supaya sektor wisata selalu menjadi primadona wisatawan. "Sekarang persaingan sektor wisata di DIY sudah sedemikian ketat. Oleh karena itu sektor wisata mesti digarap serius, supaya wisata bisa menjadi cara paling efektif untuk mengurai persoalan sosial di tengah masyarakat. Wisata punya daya ungkit untuk menggerakkan perekonomian masyarakat," tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepaka Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asty Wijayanti. Menurutnya, Pemkab Gunungkidul akan mengoptimalkan objek-objek wisata yang sudah ada, dengan berbagai inovasi. "Inovasi kami lakukan agar banyak wisatawan baru yang mengunjungi Gunungkidul," tegasnya. (Cil/Ira/Roy/Ded/Sni)

BERITA REKOMENDASI