Diduga Terkait Virus ASF, Permintaan Babi di Sleman Turun

SLEMAN, KRJOGJA.com – Terkait merebaknya wabah virus demam babi Afrika (African Swine Fever/ASF) di Bali dan Sumatera yang diberitakan baru-baru ini, juga berpengaruh pada peternakan babi di Sleman. Bahkan penurunan permintaan babi mencapai 50 persen.

Menurut Ana, salah seorang pemilik peternakan babi Dusun Gancahan Sidomulyo Godean, pascamencuatnya berita tentang virus ASF yang menyebabkan ratusan babi di Bali cukup berpengaruh. Padahal kejadian itu sudah terjadi sekitar satu bulan belakangan ini.

“Biasanya saya memasok hampir sekitar 70 ekor babi, khususnya ke daerah Jakarta tiap dua pekan. Tapi belakangan ini jumlah pesanan berkurang hampir separonya,” terang Ana saat dikonfirmasi, Minggu (16/2/2020) malam.

Selama mengelola peternakan babi, Ana selalu melengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Namun hal ini tidak cukup untuk membuat pesanan babi miliknya kembali seperti sedia kala. Bahkan tidak bisa memprediksi sampai kapan lesunya permintaan babi ini berlangsung.
“Sesuai kebijakan kan memang harus dilengkapi dengan surat-surat dari Puskeswan. Kalau virus ASF, memang belun ada vaksin untuk pencegahan,” jelasnya.

Ana menegaskan, untuk wilayah Jawa termasuk Sleman dan sekitarnya, masih aman dari serangan virus tersebut. Upaya proteksi dari pemerintah, dilakukan dengan menutup perpindahan ternak babi antarpulau untuk menghindari penyebaran virus ASF. Selain itu, dari peternak sendiri juga melakukan proteksi terhadap kondisi kesehatan hewan dengan meningkatkan bio securitynya.

Bahkan untuk memastikan babi yang diternaknya selalu sehat, Ana rutin memberikan vaksin tiap satu tahun sekali. Selain mengandalkan bantuan vaksin dari pemerintah, peternak babi juga secara swadaya membeli vaksin untuk seluruh ternaknya. “Dengan adanya virus ini, kami tingkatkan bio securitynya. Kandang harus selalu dibersihkan dan disemprot desinfektan. Hewan rutin dimandikan dan diberi pakan setiap hari sebanyak dua kali,” imbuhnya.

Terkait harga vaksin untuk babi, perekor berkisar Rp 5.000 hingga Rp 6.000. Hal ini dilakukan para peternak secara swadaya karena jika mengandalkan vaksin dari dinas, jumlahnya tidak mencukupi.

Sementara Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menegaskan, sejauh ini pihaknya belum menemukan adanya kasus babi yang terinfeksi virus ASF. Jumlah peternakan babi di Sleman juga tidak terlalu banyak, sehingga kecil kemungkinan timbulnya jenis virus baru tersebut.

“Sementara ini belum ada temuan, kasus, suspect atau bahkan orang yang terkontaminasi. Di Sleman peternakan babinya sedikit, jadi tidak akan masif,” beber Heru.

Heru mengungkapkan, virus ASF ini belum ada obatnya. Selain itu pola penyerangannya seperti apa juga belum diketahui pasti. Tahapan yang bisa dilakukan saat ini lebih kearah sanitasi kandangnya agar hewannya tidak mudah terkena penyakit. “Kami akan melakukan edukasi kepada peternak khususnya untuk menjaga kebersihan kandang. Pakannya juga harus betul betul sehat agar proses penularan virus atau kontak dengan virus bisa dikurangi,” pungkasnya.(Aha)

BERITA TERKAIT