Diguyur Hujan, Festival Saparan Bekakak Meriah

SLEMAN (KRjogja.com) – Festival Saparan Bekakak 2016 tetap digelar meski hujan lebat turun di daerah Ambarketawang, Gamping, Sleman. Festival Saparan Bekakak 2016 ini diikuti oleh 40 kelompok budaya termasuk prajurit bregodo guna melestarikan budaya yang telah lama dianut oleh warga Gamping.

"Festival ini sebagai wujud peringatan atas meninggalnya abdi dalem penongsong (pembawa payung kebesaran Kraton), Kyai Wirasuta dan istrinya yang terkena musibah runtuhnya gunung Gamping ratusan tahun yang lalu," kata Humas Festival Saparan Bekakak 2016 Judi Pramardianto  Jumat, (18/11/2016).

Menurut Judi festival ini sudah menjadi agenda budaya tahunan oleh Dinas Pariwisata DIY sebagai salah satu acara wisata. “Diharapkan dengan adanya Festival ini bisa memperkenalkan nama Gamping ke telinga wisatawan, baik nasional maupun internasional sebagai daerah wisata dengan sejarah budaya yang tinggi,” kata Judi.

Judi menceritakan Sri Sultan Hamengkubuwono I Pangeran Mangkubumi singgah di pesanggrahan Ambarketawang Gamping sembari menunggu pembangunan Kraton selesai. Saat Kraton sudah siap ditempati, Sri Sultan Hamengkubowono I beserta semua abdi dalemnya pindah ke Kraton, tetapi abdi dalem Kyai Wirasuta dan istri memohon untuk tidak ikut pindah dan ingin merawat pesanggrahan Ambarketawang saja. "Sri Sultan Hamengkubowono I mengabulkan permintaanya. Namun, tak lama kemudian bencana datang. Gunung Gamping yang berada dekat dengan pesanggrahan runtuh dan mengakibatkan Kyai Wirasuta beserta istri meninggal dunia." 

Sejak saat itu, Sri Sultan Hamengkubowono I membuat titah, setiap Jumat Kliwon bulan Sapar harus diadakan selamatan berupa penyembelihan pengantin (bekakak) yang terbuat dari ketan untuk mengenang sang abdi dalem. Sampai sekarang, titah ini dikena sebagai Saparan Bekakak yang diperingati setiap tahunnya,” tutup Judi. (mg-06)
 

BERITA REKOMENDASI