Ditjen Vokasi Dorong Lulusan Jadi Wirausahawan

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Vokasi Kemendikbud menyiapkan sejumlah strategi dan terobosan pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Termasuk mengantisipasi jika pandemi masih berlangsung hingga tahun depan dengan mendorong lulusan sekolah vokasi menjadi wirausahawan.

“Kalau sampai 2021 kondisi belum pulih akibat pandemi, kita kan mengarahkan dana yang cukup besar untuk mendorong lulusan vokasi itu menjadi wirausahawan. Nanti ada training untuk ribuan lulusan vokasi guna menjadi wirasahawan, baik yang berbasis pasar dunia maupun berbasis potensi kearifan lokal,” ungkap Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto ST MSc PhD saat berkunjung ke Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya, Sabtu (19/09/2020).

Pada kesempatan itu, Wikan banyak berdiskusi dengan Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya Dr Sarjilah MPd dan Kabag Tata Usaha Masrukhan Budiyanto SH MM dalam upaya peningkatan kompetensi guru SMK Seni Budaya. Wikan juga mengunjungi Studio Karawitan, Kriya Keramik dan Kriya Kayu yang ada di BBPPMPV Seni dan Budaya.

Lebih lanjut Wikan menyatakan, pandemi virus korona saat ini juga berdampak pada serapan lulusan sekolah vokasi. “Untuk serapan ini menjadi ‘PR’ berat di masa pandemi ini. Jika industri belum pulih, sulit untuk menyerap lulusan. Untuk itulah kita siapkan antisipasi jika sampai tahun depan kondisi belum pulih, maka lulusan kita dorong menjadi wirausahawan,” ujarnya.

Sedangkan guna mendukung program dan kebijakan yang tertuang dalam Permendikbud untuk pendidikan vokasi, kepala-kepala SMK harus berubah mindsetnya. Mereka juga harus mampu berperan sebagai marketer, networker dan production manager. Mengingat di SMK ada teaching factory yang mengembangkan Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Kepala sekola harus menjadi semacam CEO. Guru-guru juga harus berubah. Mindset guru harus keluar dari zona nyaman. Perubahan saat ini sedang terjadi, jika ngajarnya gitu-gitu saja, itu bahaya,” tandasnya.

Kurikulum SMK, lanjut Wikan, sedang dibenahi dan dikembangkan agar lebih fleksibel, adaptif dan lincah mengikuti perubahan serta ada porsi link and match. “Jadi kita bebaskan, kita merdekakan kepala sekolah dan guru-guru SMK untuk megisi porsi kurikulum ini. Magang yang sebelumnya tidak wajib, sekarang minimal harus satu semester,” paparnya.

Kurikulum baru itu, lanjut Wikan, benar-benar untuk menguatkan softskill yang di antaranya meliputi kemampuan komunikasi, presentasi, network, menerima perbedaan dan critical thinking. “Dengan kurikulum baru ini, guru harus berubah. Ngajari softskill itu tidak bisa teori. Kalau kurikulumnya masih kaku, terlalu hardskill dan softskillnya kurang, nanti Indonesia tidak akan maju. Kewirausahaan pun berbasis softskill,” tegasnya. (Jan)

BERITA REKOMENDASI